Korban Meninggal Akibat Corona Lewati China, Spanyol Beli Keperluan Medis Rp7,5 T dari Beijing

Tempat tidur untuk RS darurat di pusat pameran IFEMA, Spanyol, 21 Maret lalu. (AP/Comunidad de Madrid)
Iklan

MADRID, Waspada.co.id – Jumlah korban meninggal akibat virus corona (Covid-19) di Spanyol melampaui China pada Rabu (25/3).

Dalam 24 jam terakhir, terdapat 738 kematian hingga total korban akibat corona di Spanyol menjadi 3.434.

Sejak virus mematikan ini muncul pada akhir tahun lalu, hingga kini sudah ada 3.281 orang yang meninggal akibat corona di China.

Sementara itu, kematian tertinggi karena corona saat ini berada di Italia, dengan 6.820 kematian.

Memasuki hari ke-11 isolasi (lockdown) di seluruh negeri, Kementerian Kesehatan Spanyol mencatat ada 47.610 orang yang positif terinfeksi virus corona.

iklan

Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan tes corona sejak Selasa kemarin. Penambahan jumlah yang positif naik tajam 20 persen dalam sehari, namun ini juga berbanding lurus dengan persentase jumlah kematian dengan 27 persen.

Pemerintah juga memperingatkan minggu ini, situasi akan makin memburuk.

“Kita mendekati puncak,” kata Menteri Koordinator Situasi Darurat Fernando Simon.

Lockdown di Spanyol dimulai pada 14 Maret lalu, dan direncanakan berlangsung dua pekan. Namun situasi yang belum kunjung membaik membuat pemerintah memperpanjang lockdown hingga 11 April mendatang.

Di seluruh Spanyol, jumlah kasus tertinggi berada di ibu kota Madrid yakni 14.597 orang terinfeksi, dan 1.825 kematian.

Untuk mengatasi kekurangan rumah sakit, pemerintah mendirikan rumah sakit darurat di pusat pameran IFEMA, yang saat ini menampung 1.500 tempat tidur.

Selanjutnya, Pemerintah Spanyol menandatangani kontrak bernilai 432 juta euro atau setara Rp7,5 triliun dengan China untuk membeli keperluan medis guna mencegah penyebaran virus corona.

Menteri Kesehatan Spanyol, Salvador Illa, mengatakan bahwa kesepakatan itu mencakup pembelian 550 juta masker, 5,5 juta paket rapid test, 950 alat bantu pernapasan, dan 11 juta pasang sarung tangan.

“Kami mendapatkan satu jaringan produksi (di China) yang akan bekerja khusus untuk pemerintah Spanyol,” ujar Illa seperti dikutip AFP pada Rabu (25/3).

Illa mengatakan bahwa pasokan tersebut akan dikirimkan dalam jumlah banyak setiap minggu dengan pengiriman pertama pada akhir pekan ini.

Pemerintah melakukan pembelian ini setelah angka infeksi virus corona di Spanyol kian melejit hingga mencapai 47 ribu kasus.

Peningkatan ini membuat sistem medis Spanyol nyaris hancur karena lebih dari 5.400 pekerja bidang kesehatan terinfeksi virus corona, mencapai 12 persen dari keseluruhan kasus.

Melihat kenyataan ini, rakyat Spanyol melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sanchez.

Di tengah hujan kritik tersebut, Sanchez dan Presiden China, Xi Jinping, menandatangani kesepakatan pembelian pasokan medis tersebut pada pekan lalu. (cnn/data2)

Iklan