Hantavirus, Kehebohan Global Baru dari si Pengerat

Virus Hanta (Foto: Veekeez)
agregasi

Musim virus tengah booming. Setelah virus corona (COVID-19), hadir virus hanta atau Hantavirus yang sudah makan satu korban jiwa di Provinsi Yunnan, China.

Meski hadir susul menyusul, kedua virus tersebut sumbernya beda. COVID-19 disebut berasal dari kelelawar dan ular, sedangkan virus hanta (Hantavirus) setelah diteliti dari beberapa jenis tikus tertentu yang hidup di daerah pedesaan, hutan, ladang dan peternakan.

Penyebaran virus hanta (Hantavirus) dari tikus ke manusia dalam istilah medis tergolong penyakit zoonosis. Jenis penyakit yang dibawa oleh hewan berupa virus dalam tubuhnya. Penyebarannya pun tidak sampai antarmanusia. Hanya beberapa kasus virus hanta diketahui bertransmisi antarmanusia oleh virus bernama Andes.

Dilansir dari situs Centers for Diseases Control and Prevention (CDC), www.cdc.gov, Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) menjadi nama penyakit pernapasan yang dimulai dengan gejala mirip flu.

Si penderita mengalami gejala demam setelah terpapar virus dari partikel kecil seperti kotoran tikus, urine atau air liur hewan pengerat ini. Badan Kesehatan Dunia, WHO mengingatkan, kasus-kasus infeksi virus hanta pada manusia biasanya terjadi di lingkungan yang kurang bersih.

Lingkungan berisiko tinggi sebagai pusat timbulnya virus hanta, seperti ruangan penyimpanan barang, garasi maupun bangunan tertutup dalam waktu lama. Lumbung padi pun bisa menjadi sarang tikus untuk berkembang biak.

USA Today melansir, tubuh manusia terpapar virus hanta dalam waktu inkubasi 10 hari. Gejala awalnya, antara lain demam hingga menggigil, pusing, kram perut, nyeri sendi, pandangan mata kabur hingga gagal napas dan gagal ginjal.

Viralnya kematian warga China akibat virus hanta di tengah keriuhan COVID-19 seakan mengingatkan warga dunia akan ancaman lainnya. Tagar #hantavirus dicuitkan puluhan ribu orang di media sosial. Kekhawatiran baru menyeruak. Padahal jika diamati, kuncinya hanya dengan menjaga kebersihan.

Pergerakan virus hanta sendiri di Amerika Serikat sepanjang 1993-2017, menurut data CDC, berkisar 728 kasus. Dibandingkan dengan COVID-19, Hantavirus masih bisa dihambat lebih cepat dengan sejumlah intervensi gaya hidup. Sementara COVID-19 memerlukan intervensi isolasi khusus karena transmisinya begitu masif antarmanusia dan di udara.

Sekali lagi, kemajuan global tidaklah menjamin kondisi kesehatan publik. Kesadaran untuk mematuhi setiap protokol kesehatan yang ditetapkan mampu menjadi kunci agar dunia tak kembali di masa kegelapan wabah.