Pemerhati Lingkungan Desak KLHK Tinjau PT CIS Beroperasi di Hutan Register 40

Foto: Pemerhati Lingkungan Paluta, Samsul Bahri Harahap saat menunjukkan kawasan Hutan Register 40 di Kabupaten Paluta (WOL Photo)

PALUTA, Waspada.co.id – Pemerhati Lingkungan Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Samsul Bahri Harahap, menduga ada persekongkolan antara manajemen PT Cahaya Inti Sawit (PT CIS), DPRD Paluta hingga Pemkab Paluta terkait izin operasional pabrik pengolahan kelapa sawit yang terletak di Desa Kosik Putih Kecamatan Simangambat.

Samsul meminta penegak hukum dalam hal ini KLHK sebagai pemegang otoritas hutan supaya menindak tegas PT Cahaya Inti Sawit dan oknum yang terlibat di dalamnya tanpa pandang bulu. Sebagaimana KLHK pernah mengambil alih kawasan hutan yang berubah fungsi menjadi kebun sawit oleh mendiang Raja DL Sitorus.

“Yang di mana dalam perkara tersebut, mendiang Raja DL Sitorus dipenjara 8 tahun dan denda Rp5 miliar. Aset diam perkebunan kelapa sawit 47 ribu hektar dan dua unit pabrik pengolahan kelapa sawit disita menjadi milik negara. Itu yang kita mau dengan PT CIS ini,” ketusnya, Jumat (21/2).

Lebih lanjut Samsul menyayangkan pernyataan Ketua DPRD Paluta Mukhlis Harahap yang diduga dengan sengaja mentolerir perbuatan kejahatan melawan hukum yang dilakukan oleh PT CIS secara terorganisir, tersetrukturan, continiu dan sistimatis.

“Ketua DPRD Paluta a-historis terhadap kawasan hutan produksi register 40 Padang Lawas. Saya meminta Ketua DPRD Paluta agar mencabut ucapannya yamg sudah menjadi konsumsi media massa. Pernyataannya itu adalah opini yang menyesatkan masyarakat Paluta,” pungkasnya.

Advertisement

Sebagaimana diketahui, Samsul Bahri Harahap merupakan salah satu saksi perkara atas gugatan perdata alih pungsi kawasan hutan produksi register 40 Padang Lawas seluas 47 ribu hektar berdasarkan putusan mahkamah agung no 4246/K_pid/2006 oleh PT Torganda, PT Torus Ganda, kepada Negara cq Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia lalu.(wol/bon/data3)

Editor: SASTROY BANGUN