Cuitan “Korban Peluru Nyasar,” Saksi Polisi: Tersinggung Isi Pesan Terdakwa

WOL Photo
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Jaksa Penuntut Umum menghadirkan dua saksi dalam sidang perkara kasus pemberitaan bohong, dengan terdakwa Fajar Mursalin (20). Kedua saksi yakni M Zulfanudin (36) dari kepolisian dan Faisal (45) Wakil Dekan I UMSU.

Diketahui, 27 September 2019 sekira pukul 16.00 WIB terjadi peristiwa unjuk rasa yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi termasuk UMSU yang dilakukan di Gedung DPR Sumut, di mana beberapa titik depan Kantor DPRD Sumut dan di depan Kantor Kodim Medan terlihat beberapa mahasiswa yang berorasi.

Pada waktu yang bersamaan, terdakwa Fajar Mursalin mendapatkan pesan dari grup yang berisikan foto seorang laki-laki terbaring tak berdaya yang dalam kondisi ditandu, diserta dengan tulisan “Korban peluru nyasar Mahasiswa Fakultas Hukum UMSU Adinda Anies Akarni. Kejadian tadi sore dan dirawat di rumah sakit PUTRI HIJAU MEDAN.”

Dengan keadaan sadar, tanpa melakukan pengecekan informasi terlebih dahulu, terdakwa Fajar Mursalin langsung membagikan/meneruskan isi pesan tersebut ke beberapa grup media social WhatsApp. Naasnya, berita yang di terima dan dibagikannya itu adalah berita bohong.

Dalam kesaksian, Wakil Dekan I UMSU, Faisal, tidak membenarkan informasi yang menyebutkan kalau salah satu mahasiswa UMSU terkena peluruh nyasar dari aksi demo RUU KPK tersebut.

iklan

“Iya kami dapat info, terus kami lakukan pemeriksaan terhadap si korban, ternyata bukan terkena peluru nyasar, dan gak tau itu kenapa, yang pastinya itu bukan akibat dari aksi,” tegas Faisal di hadapan Majelis Hakim diketuai Erintuah Damanik di Ruang Cakra V, Jumat (7/2).

Di sisi lain, saat dicerca hakim, saksi dari Polda Sumut M Zulfanudin merasa keberatan dengan isi pesan yang menyebutkan korban peluru nyasar.

“Kami dari kepolisian sangat tersinggung dengan isi pesan tersebut, karena kami tidak ada menggunakan peluru tajam. Kami hanya menggunakan gas air mata,” ujarnya.

Mendengar pernyataan tersebut, Penasihat Hukum (PH) terdakwa menjelaskan kenapa saksi keberatan padahal bukan hanya polisi yang menggunakan senjata api.

“Apakah kamu tahu, selain Polri, ada beberapa institusi lain yang mengenakan senjata dalam tugasnya,” tanya PH.

Saksi tersebut pun menjawab, kalau tidak hanya polisi yang menggunakan senjata api, karena masih ada instansi yang menggunakan senjata api. Karena pengakuannya bukan hanya polisi yang menggunakan senjata api, PH pun bertanya apa alasannya pihak kepolisian merasa keberatan atau tersinggung, padahal jelas di isi pesan tidak menyebutkan suatu instansi.

“Karena saat itu, pihak polisi yang paling depan untuk menghadang masa,” ucap M Zulfanudin.

Usai mendengarkan pernyataan dari kedua saksi, majelis hakim pun menutup persidangan sampai minggu depan.

“Sidang kita tutup dan dilanjutkan minggu depan dengan agenda kesaksian dari terdakwa,” ucap hakim sambil ketok palu.(wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan