Sosok Jendral Qasem Soleimani, ‘Orang Kuat’ Iran yang Tewas di Tangan AS

Foto: Komando militer Iran, Qasem Soleimani yang terkena serangan AS di Irak. (STR/AFP)
Iklan

BAGHDAD, Waspada.co.id – Mayor Jenderal Qasem Soleimani merupakan perwira militer senior Iran yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di Bandara Baghdad, Irak, pada Jumat (3/1). Soleimani tewas saat pesawat yang ia tumpangi tertembak roket tak lama setelah mendarat di Bandara Baghdad.

Soleimani bukan orang sembarangan. Dia dinilai sebagai salah satu tokoh paling populer dan berpengaruh di Iran.

Ia dipandang sebagai musuh mematikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Kematiannya diperkirakan bakal membangkitkan amarah rezim Iran yang memang memiliki bara permusuhan dengan AS, usai Revolusi 1979 yang berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Reza Pahlevi.

Bagi para musuh-musuh Teheran, Soleimani dipandang sebagai arsitek utama yang berhasil memperkuat pengaruh Iran di kawasan. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menjaga hubungan baik dan menjadikan milisi-milisi Syiah di Timur Tengah sebagai sekutu Iran.

Cara itu dinilai tepat karena efektif untuk membantu Iran mengusir ISIS di Suriah dan Irak, serta mengimbangi kekuatan Arab Saudi dan Israel yang merupakan musuh bebuyutan di kawasan.

iklan

Soleimani pernah merasakan bertempur dengan Irak pada 1980-an. Dia bahkan masuk sebagai 100 orang paling berpengaruh versi majalah TIME dua tahun lalu.

“Bagi kelompok Syiah di Timur Tengah, Soleimani adalah James Bond, Erwin Rommel, dan Lady Gaga digabung menjadi satu,” tulis mantan analis CIA, Kenneth Pollack, dalam profil majalah TIME pada 2017 lalu.

“Sementara itu, bagi Barat, dia orang yang bertanggung jawab memperluas pengaruh Revolusi Islam Iran di kawasan, mendukung kelompok teroris, dan pihak yang berupaya menumbangkan pemerintahan pro-Barat di Timur Tengah,” paparnya menambahkan seperti dikutip AFP.

Meski dirayu sedemikian rupa, Soleimani memutuskan tetap berada di jalur militer dan tidak tergoda melepaskan jabatannya untuk menjadi politikus Iran.

Soleimani lahir pada 11 Maret 1957 di kota pegunungan Rabor. Namun, menurut dokumen AS, dia dilahirkan di Kota Qom.

Masa kecil sang jenderal tidak banyak diketahui. Pada usia 13 tahun, Soleimani disebut menjadi buruh bangunan di Organisasi Air Kerman.

Setelah rezim Pahlevi tumbang akibat pemberontakan, Soleimani memutuskan bergabung dengan pasukan Garda Revolusi. Dia dikirim ke barat laut Iran untuk menghadapi pemberontakan Suku Kurdi.

Setelah perang berakhir, Soleimani seolah hilang ditelan bumi. Diduga dia saat itu bertikai dengan Hashemi Rafsanjani yang kemudian menjadi Presiden Iran pada 1989 sampai 1997.

Setelah Rafsanjani tak lagi berkuasa, Soleimani lantas menjadi komandan korps Pasukan Quds. Dia juga dikenal sangat dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Saking dekatnya, Khamenei menjadi penghulu dalam pernikahan anak Soleimani.

Bagi Irak, jasa Soleimani juga tidak sedikit. Ia menjadi salah satu pihak asing yang terlibat dalam pembentukan pemerintah di Irak.

Pria 62 tahun itu juga berhasil menekan orang-orang Kurdi di Irak untuk menghentikan rencana mereka memerdekakan diri pasca-referendum pada September lalu.

Soleimani sudah beberapa kali pernah dilaporkan meninggal yakni saat kecelakaan pesawat pada 2006 di barat laut Iran, ledakan bom di Damaskus, Suriah, pada 2012, dan terakhir dalam pertempuran melawan pemberontak di Aleppo, Suriah pada November 2015.

Sebelum tewas, Soleimani masih memimpin Pasukan Quds yang merupakan pasukan elit militer Iran sejak 2001, tepatnya ketika AS menginvasi Afghanistan. Ia juga pernah bertempur di Aleppo, Suriah dan memimpin pertempuran melawan ISIS di Suriah dan Irak.

Menurut pengakuan para milisi dan anak buahnya, Soleimani selalu berada di garis depan ketika terjadi baku tembak. Yang lebih heroik adalah dia disebut tidak pernah mau mengenakan rompi antipeluru.

“Beliau selalu mengajarkan kepada kami kematian adalah awal kehidupan, bukan akhir,” kata seorang milisi Irak yang pernah bertempur bersama Soleimani, seperti dikutip Associated Press. (cnn/data3)

Iklan