Israel Klaim Warganya Legal ke Saudi, Menlu Saudi Tolak Beri Izin Umrah dan Haji

Ilustrasi haji. (128flashfire/Wikipedia)

RIYADH, Waspada.co.id – Arab Saudi menolak memberi izin warga Israel datang untuk beribadah haji dan umrah. Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menuturkan hingga saat ini negara kerajaan belum bisa menerima warga Israel masuk meski pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sudah memberi lampu hijau soal kunjungan ini.

“Kebijakan kami tetap konsisten. Kami tidak memiliki hubungan dengan Israel sehingga pemegang paspor Israel tidak bisa masuk ke Saudi untuk saat ini,” kata Farhan kepada CNN Arab pada Senin (27/1).

Pernyataan itu diutarakan Farhan menanggapi kebijakan Israel yang baru-baru ini mengeluarkan izin bagi warganya mengunjungi Saudi untuk keperluan bisnis dan ibadah.

Kementerian Dalam Negeri Israel mengumumkan langkah ini dilakukan demi mengurangi kebiasaan warganya yang kerap bepergian ke Saudi melalui negara ketiga, seperti Yordania.

Israel menuturkan akan memberi izin warga yang ingin ke Saudi untuk kegiatan ibadah seperti haji dan umrah. Negara Zionis itu juga mengizinkan warga mengunjungi Saudi tak lebih dari 90 hari untuk menghadiri pertemuan bisnis.

Advertisement

Kemendagri Israel memaparkan para pelancong yang melakukan perjalanan bisnis harus mendapat izin masuk ke Saudi dan menerima undangan dari sumber pemerintah.

Sebagian besar negara Arab, termasuk Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Meski memiliki kesepakatan damai dengan Mesir dan Yordania, relasi Israel dengan bangsa Arab terhambat lantaran okupasinya terhadap Palestina.

Namun, beberapa tahun terakhir, Israel mencoba membangun kembali relasi dengan negara-negara Arab.

Walau tak memberi izin masuk warga Israel, Farhan mengaku bahwa Saudi terus mendukung solusi damai antara Israel dengan Palestina.

“Ketika pakta perdamaian antara Israel dan Palestina tercapai, integrasi antara Israel dan negara di kawasan Timur Tengah akan mulai dinegosiasikan lagi saya yakin itu,” tutur Farhan.

Komentar Farhan itu muncul menjelang keputusan Amerika Serikat mengumumkan rencana perdamaian Israel-Palestina gagasan Presiden Donald Trump pada Selasa (28/1) siang waktu AS.

Gagasan Trump itu telah ditolak Palestina yang menganggap sikap AS berat sebelah lantaran membela Israel secara sepihak. (cnnina/data2)