Abaikan Sanksi AS dengan Cabut Moratorium Nuklir, Korut Siapkan Uji Senjata Baru

Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un. (AFP Photo/Kirill Kudryavtsev)
Iklan

PYONGYANG, Waspada.co.id – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, menyatakan mencabut penghentian sementara (moratorium) pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua (ICBM) pada awal 2020, dan mengabaikan sanksi Amerika Serikat.

Kim bahkan menjanjikan akan segera memperlihatkan senjata baru, dan tidak peduli dengan ancaman sanksi yang lebih berat lagi.

Pernyataan itu disampaikan dalam pidato kenegaraan di awal 2020 pada Rabu (1/1) kemarin yang dibacakan oleh pembaca berita senior kantor berita KCNA, Ri Chun Hee.

“Kami merasa sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk terikat dalam sebuah komitmen. Dunia akan menyaksikan senjata strategis baru milik Republik Rakyat Demokratik Korea tak lama lagi,” kata Kim dalam pidato, seperti dilansir kantor berita KCNA dan dikutip AFP, Kamis (2/1).

Dalam paparan tersebut, Kim menyatakan memahami akan dampak sanksi internasional yang akan terjadi jika mereka melanjutkan program senjata tersebut. Namun, dia mengatakan rela mengorbankan semua itu demi mengembalikan kejayaan persenjataan Korut.

iklan

“Amerika Serikat bersikap menyebalkan karena selalu menuntut lebih dan bertentangan dengan permintaan mendasar kami. Mereka terus menggelar sejumlah latihan perang dalam skala kecil dan besar, meski presiden mereka (Donald Trump), sudah berjanji untuk menghentikannya. Mereka juga terus mengirim persenjataan canggih kepada Korea Selatan,” demikian isi pidato Kim Jong-un.

Hal ini diduga sebagai bentuk kekecewaan Kim atas mandeknya perundingan dengan Amerika Serikat. Sebab, Korut menetapkan tenggat kepada AS hingga akhir 2019 untuk membicarakan pencabutan sanksi dan denuklirisasi, tetapi negosiasi lanjutan itu tidak terjadi.

Negosiasi antara Kim dan Trump yang digelar di Singapura dan terakhir di Hanoi, Vietnam pada Februari 2019 terhenti tanpa kesepakatan antara kedua belah pihak.

Kim menyatakan menolak usulan Trump untuk melucuti seluruh persenjataan nuklir mereka terlebih dulu, lantas diperiksa oleh sejumlah ahli. Jika hasilnya sesuai prediksi, baru kemudian AS akan mencabut sanksi.

Sedangkan Trump menolak usulan Kim untuk secara bertahap melucuti senjata dan reaktor nuklir, sambil AS mencabut sanksi bagi Korut satu persatu.

Korut sampai saat ini tercatat sudah enam kali melakukan uji senjata nuklir. Kekuatannya diperkirakan 16 kali lipat lebih dahsyat dari bom yang digunakan di Hiroshima.

Bahkan Korut menyatakan sudah mempunyai rudal balistik yang daya jelajahnya mampu mencapai Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyatakan tidak ingin berkonfrontasi dengan Korut. Dia berharap Kim mempertimbangkan jalan lain untuk membuat situasi tetap terkendali di Semenanjung Korea.

“Jika hal itu terjadi maka akan sangat mengecewakan. Kami berharap Ketua Kim mempertimbangkan cara lain, yakni memilih perdamaian dan kesejahteraan daripada konflik dan perang,” kata Pompeo.

Sedangkan Kementerian Penyatuan Korea di Korea Selatan menyatakan niat Kim untuk melakukan uji senjata baru tidak membantu proses perundingan denuklirisasi.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyatakan prihatin dengan pernyataan Kim soal niat untuk melakukan pengujian senjata baru.

“Saya berharap pengujian itu tidak terjadi. Non-proliferasi tetap menjadi pilar mendasar atas keamanan nuklir global,” kata Guterres. (cnn/data2)

Iklan