Terkait Kasus Pencucian Uang Rp177 Miliar, Ini Penjelasan Bank Sumut

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang atas pembelian Medium Term Notes (MTN) yang dilakukan oleh karyawan berinisial MAL, melalui Kuasa Hukum PT Bank Sumut dari Kantor Hukum Hasrul Benny Harahap dan rekan, Julisman, menerangkan bahwa dugaan penyidik tentang adanya aliran dana sebagai transaksi yang mencurigakan ke oknum karyawan PT Bank Sumut di luar pengetahuan perusahaan.

“Tentu kami sangat menghormati proses penyidikan hukum dari penyidik Kejati Sumut. Namun apabila di dalam proses penyidikan penyidik Kejaksaan Tinggi Sumut diduga ada aliran dana sebagai transaksi yang mencurigakan ke MAL adalah di luar pengetahuan perusahaan,” tuturnya, Kamis (12/12).

Dan tindakan yang dilakukan MAL tersebut merupakan tindakan pribadi. Itu sehubungan telah ditetapkannya karyawan Bank Sumut berinisial MAL sebagai tersangka dan sudah dilakukan penahanan oleh Kejati Sumut.

“Ia ditahan atas dugaan tindak pidana pencucian uang atas pembelian Medium Term Notes (MTN) yang diterbitkan oleh PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan yang dilakukan PT Bank Sumut,” jelasnya.

Di mana pembelian Medium Term Notes (MTN) dilakukan periode tahun 2017 hingga 2018. Adapun pembelian MTN yang diterbitkan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) oleh PT Bank Sumut sebesar Rp177 miliar telah dilakukan sesuai dengan ketentuan dan dilakukan Divisi Treasury Bank Sumut.

Advertisement

“Bank Sumut melakukan pembelian MTN yang diterbitkan SNP melalui perantara PT MNC Sekuiritas didasarkan beberapa faktor. Mulai kepercayaan yang kuat karena perusahaan finance merupakan salah satu sektor yang operasionalnya diawasi langsung Otoritas Jasa Keuangan,” ungkapnya.

Track record keuangan SNP sebagaimana yang tertuang dalam proposal penawaran yang disampaikan MNC Sekuiritas dinilai baik dan dapat dipercaya.

“Dan selama pembelian tersebut Bank Sumut telah menerima pembayaran kupon/bunga sebesar Rp2,312 miliar dan bahkan telah melakukan penjualan kembali MTN sebesar Rp30 miliar,” ucapnya.

“Jadi total investasi Bank Sumut di SNP tinggal sebesar Rp147 miliar,” tegas Julisman.

Sementara menurut Seketaris Perusahan Bank Sumut, Syahdan Ridwan Siregar, bahwa kasus ini bukan terjadi di tahun 2019, pembelian ini adalah resiko kredit dan terhadap MTN tersebut Bank Sumut telah mencadangkan pada neraca di tahun 2018 lalu.

“Berdasarkan laporan keuangan PT Bank Sumut masih memperoleh laba sebesar Rp502 miliar per Desember 2018, sehingga tidak akan mempengaruhi kondisi keuangan Bank Sumut di tahun 2019,” tambahnya.

“Tidak kembalinya dana investasi yang dilakukan oleh PT. Bank Sumut tersebut adalah dikarenakan adanya proses pailit terhadap PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan, akan tetapi hal tersebut tidaklah secara otomatis dapat dikatakan sebagai suatu kerugian keuangan negara. Karena pada saat sekarang ini proses kepailitan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat sedang berlangsung dan kurator yang ditunjuk untuk menyelesaikan proses kepailitan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan sedang melakukan tindakan pemberesan terhadap proses pailit,” terangnya.

Sehingga apabila nantinya aset-aset PT Sunprima Nusantara Pembiayaan yang dijadikan boedel pailit oleh kurator akan dilelang dan selanjutnya akan dibagi-bagikan kepada para kreditur sesuai dengan kedudukan dan jumlah utangnya masing-masing, termasuk nantinya kepada PT Bank Sumut selaku kreditur dari PT Sunprima Nusantara Pembiayaan, dan peristiwa semacam ini di dalam prinsip perbankan dapat dikategorikan sebagai resiko pasar perbankan.

“Sehingga apabila di dalam proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara diduga ada aliran dana sebagai transaksi yang mencurigakan yang diterima oleh oknum karyawan PT. Bank Sumut, hal tersebut adalah di luar pengetahuan dari PT. Bank Sumut, dan tindakan tersebut adalah tindakan pribadi, dan kami menghormati proses hukum yang dilakukan oleh penyidik,” tandasnya.(wol/eko/data2)

Editor: SASTROY BANGUN