Motif Dendam 2 Polisi Penyerang Novel Diragukan

Tersangka penyerangan kepada Novel Baswedan dipindah ke Bareskrim Polri. (Foto: Muhamad Rizky/Okezone)
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Kedua polisi aktif berinisial RM dan RB itu ditetapkan sebagai tersangka penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Keduanya pun telah ditahan. Pelaku menganggap Novel adalah pengkhianat.

Pengamat politik dari Lingkar Madani, Ray Rangkuti meragukan motif pelaku teror terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Dalam keterangannya, kedua pelaku melakukan aksinya itu didorong atas dendam pribadi.

“Saya sendiri ragu bahwa penyiraman ini semata hanya karena masalah pribadi. Dan hanya berhenti sampai ke pelaku lapangan,” kata Ray saat dihubungi, Jakarta, Minggu (29/12).

Ray sendiri mengaku merasa banyak kejanggalan dalam kasus ini. Terlebih beberapa pertanyaan vital masih berkecamuk di kepalanya. Ia merasa heran mengapa kedua pelaku sampai senekat itu. Seberapa besar kesalahan Novel hingga mereka tega melakukan itu.

“Mengapa penyiraman yang menyasar ke mata yang dilakukan oleh si pelaku jika masalah pribadi ini sesuatu yang sangat besar?” kata Ray heran.

iklan

Di samping itu, masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya saja menyangkut apakah pesan yang ingin disampaikan pelaku dengan menyerang bagian mata Novel.

“Apakah tidak ada komunikasi lisan atau tertulis soal masalah pribadi ini antara NB (Novel Baswedan) dengan pelaku sebelumnya? Ini beberapa pertanyaan yang tentu saja membutuhkan jawaban,” kata dia.

Ia berharap dalam satu minggu kedepan, pertanyaan ini segera terjawab. Kalau tidak, kata Ray berarti semakin menegaskan bahwa kasus yang teror ini merupakan kasus yang istimewa.

Keistimewaan ialah mengenai lamanya pengungkapan kasus tersebut. Lebih dari dua tahun polisi baru bisa mengungkap siapa pelaku terornya.

Pelaku Bikin Malu Kepolisian
Lebih memalukan lagi, kata dia, kedua pelaku justru bercokol di dalam instansi yang selama ini melakukan penyelidikan terhadap kasus Novel.

“Kasus ini bukan lagi semata bersifat kriminal, tetapi juga bahkan masuk ke ranah politik dan sosial. Selain jadi bahan kampanye politik di Pilpres lalu, ia juga membelah publik antara yang meyakini bahwa kasus ini benar terjadi dengan masyarakat yang percaya bahwa NB sedang bersandiwara,” terang dia.

“Bahkan warga saling melaporkan dugaan adanya kebohongan publik dan pencemaran nama baik,” Ray melanjutkan.

Terakhir, Ray berharap agar kasus ini tidak mandek di tengah jalan. Mengingat mata publik tertuju pada kasus ini.

“Mudah-mudahan perjalanan kisah ini tak berujung pula pada penyelesaian dengan cara ‘istimewa’. Beberapa pertanyaan seperti disampaikan di atas akan terjawab seiring dengan pelakunya sudah ditangkap,” tutup dia. (viva/ags/data3)

Iklan