Sosok Benny Wenda yang Disebut Dalang Kerusuhan di Tanah Papua

Benny Wenda (Foto: AFP/iNews)
agregasi

 

JAKARTA – Pemerintah melalui Kemenko Polhukam menyatakan Benny Wenda merupakan salah satu dalang dibalik terjadinya kerusuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat. Aksi unjuk rasa atas kasus rasisme di Surabaya dimanfaatkan Benny menjadi bentuk gerakan separatis kemerdekaan Papua dan Papua Barat.

Benny dulunya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI). Namun, dewasa ini, dia adalah Warga Negara Asing (WNA) asal Inggris. Dia dan keluarga pun menetap di Britania Raya itu. Bahkan, hingga kini dia masih terus mendengungkan kemerdekaan Papua di luar negeri.

Wenda merupakan seorang pria kelahiran di sebuah desa terpencil pada kawasan Papua Barat. Dia sudah terbiasa dengan suasana konflik sejak masa kecil. Pasalnya, pada tahun 1977 Wenda merasakan masuknya pasukan militer ke desanya.

Setelah beranjak dewasa, kiprah dari Wenda dimulai ketika rezim Presiden Soeharto tumbang. Dinamika gerakan referendum lepasnya Papua dari NKRI semakin menguat.

Advertisement

Kala itu, Wenda bergerak melalui organisasi Demmak (Dewan Musyawarah Masyarakat Koteka), membawa suara masyarakat Papua. Ketika itu, mereka menolak segala bentuk masukan Pemerintah Indonesia termasuk menjadikan Papua sebagai daerah dengan otonomi khusus.

Perjuangan referendum itupun sempat menjebloskan Wenda ke dalam penjara pada 6 Juni 2002 di Jayapura, Papua. Dia disebut sebagai dalang adanya pengerahan massa untuk membakar kantor polisi. Akibatnya, dia dipenjara selama 25 tahun.

Namun belum selesai menjalani masa tahanannya, Wenda berhasil melarikan diri dari penjara pada 27 Oktober 2002. Dia hanya mempertanggungjawabkan perbuatannya dibalik jeruji besi sekitar empat bulan saja.

Setelah melarikan diri dari penjara di Indonesia, Wenda dikabarkan dibantu oleh para loyalisnya pergi ke Papua Nugini. Tak berhenti, akhirnya Wenda melanjutkan untuk melakukan perjalanan ke Inggris.

Pada perjalanannya inilah Wenda mendapatkan suaka politik dari Inggris. Tepatnya pada tahun 2003. Suaka itu diberikan pada Wenda, istrinya Maria dan anak-anaknya sampai saat ini.

Dengan begitu, Pemerintah Indonesia sebetulnya pada tahun 2011 pernah mengeluarkan Red Notice terhadap Wenda. Bahkan, sempat ada surat perintah penangkapan Wenda lantaran terlibat beberapa kasus pidana di Indonesia.

Kini, Wenda kembali menjadi perbincangan. Pemerintah menyebut Wenda adalah dalang kerusuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat.