“Sampah Juga Punya Nilai Ekonomi”

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Anggota DPRD Medan, Proklamasi K Naibaho, mengatakan sampah yang selama ini menjadi permasalah warga, tak selamanya harus berakhir di pembuangan akhir. Sampah bisa dikelola dengan kreativitas sehingga menjadi barang yang memiliki nilai jual dan menghasilkan uang. Pemanfaatan sampah menjadi barang berharga, bisa dijual sehingga meningkatkan perekonomian warga.

“Pemko bersama DPRD Medan sudah membuat Perda untuk pengelolaan sampah dengan maksud agar bisa dikelola dengan baik,” katanya saat menggelar Sosialisasi XI Perda Kota Medan Nomor 6/2015 tentang Pengelolaan Persampahan di Kecamatan Medan Johor, Sabtu (31/8) sore.

Prinsipnya, sebut politisi Gerindra ini, Perda tersebut memberikan kesempatan untuk mengelola sampah sehingga produksi sampah mencapai 2.000 ton per hari di Medan, tidak menjadi masalah dan bencana. Bahkan, bisa dimanfaatkan. “Sampah tidak memberikan kesan kumuh dan jorok di Medan dan juga tidak menimbulkan berbagai penyakit kalau dikelola dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, disampaikannya agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Pelanggaran atas Perda ini diancam denda Rp10 juta dan kurungan 3 bulan. Sementara untuk badan usaha diancam denda Rp50 juta dan kurungan 6 bulan.

Untuk pengangkutan sampah, Pemko Medan sudah menyediakan mobil sampah yang mengangkutnya dari lingkungan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Advertisement

“Ada juga reward (penghargaan) bagi masyarakat yang memberitahukan warga kalau membuang sampah sembarangan,” katanya.

Dalam kesempatan itu beberapa warga mengajukan pertanyaan. Salah satunya James Saragih, yang mempertanyakan tentang penyediaan tong sampah. Disebutkan, Pemko hendaknya menempatkan tong sampah di setiap lingkungan, terutama di Jalan Pintu Air IV agar warga bisa menaruh sampahnya di sana.

Menanggapi itu, Proklamasi K Naibaho berharap partisipsi masyarakat menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Kalau Pemko belum bisa memberikan tong sampah karena keterbatasan anggaran, hendaknya warga bisa berpartisipasi menyediakan tong sampah sendiri.

Diingatkan Proklamasi lagi, bahwa sungai dan parit bukan tong sampah besar. “Warga harus sadar untuk tidak membuang sampah ke sungai atau parit,” ujarnya seraya menyebutkan, kalau parit penuh sampah, warga juga yang menjadi korban. Karena saluran drainase akan tumpat dan air akan menggenangi rumah warga. (wol/mrz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN