Raja Salman Beri Cek Rp85 Miliar untuk Korban Crane Jatuh Lewat KBRI Riyadh

Istimewa

JAKARTA – KBRI Riyadh menerima cek santunan senilai 6,133 juta dollar Amerika Serikat atau setara Rp85,1 milyar (kurs 14.150) dari pemimpin Arab Saudi Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Cek tersebut untuk untuk para korban jatuhnya crane pada musim haji 2015 di komplek Masjidil Haram Makkah.

Cek senilai 23 Juta Riyal itu diserahkan oleh penasihat hukum Deputi Konsuler Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Mohammad Alshammeri kepada Kordinator Perlindungan Warga KBRI Riyadh Raden Ahmad Arief di Kantor Kementerian Luar Negeri, Riyadh.

Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel berterima kasih kepada Raja Salman dan Putra Mahkota Mohamed bin Salman atas empati dan perhatian yang luar biasa kepada para jamaah haji Indonesia korban jatuhnya crane pada Jumat 11 September 2015.

Ucapan terima kasih juga disampaikan ke Gubernur Makkah Pangeran Khalid al-Faisal serta berbagai kementerian terkait di Arab Saudi.

Advertisement

KBRI Riyadh dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone di Jakarta, Rabu (4/9/2019) menyatakan, cek-cek tersebut ada 35 lembar dan terdiri dari dua nominal.

Pertama 133.333 dollar AS (setara 500 ribu Riyal) atau Rp1,8 milyar untuk korban luka berat. Kedua, nominal 266.666,66 dollar AS (setara 1 juta Riyal) atau Rp3,7 milyar untuk korban meninggal dan cacat permanen.

Satu cek untuk korban luka berat masih perlu pencocokan data paspor dan secepatnya akan direalisasikan sehingga total menjadi lengkap 36 cek.

KBRI Riyadh juga sudah menyampaikan detail laporan kepada Kementerian Luar Negeri RI untuk selanjutnya akan dilakukan kordinasi dengan Kementerian Agama RI agar difinalisasi administratif terkait penyampaian dana santunan kepada para korban luka berat dan cacat permanen serta para ahli waris korban meninggal dunia.

“Hampir tiap minggu para keluarga ahli waris di Indonesia menghubungi kami lewat Facebook, WA atau medsos yang lain mempertanyakan kapan realisasi santunan Raja Salman tersebut,” kata Maftuh Abegebriel.

“Selalu kami jawab bahwa sejak kami mulai bertugas di KBRI (Riyadh), Maret 2016, akan selalu prioritaskan untuk menyelesaikan kasus crane dengan melakukan upaya komunikasi dengan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi,” tambah staf pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.