DPRD Medan: Wisata Halal Danau Toba Tidak Menghilangkan Adat Istiadat

Anggota DPRD Medan, Muhammad Nasir. (foto: youtube)

MEDAN, Waspada.co.id – Sekretaris Komisi I DPRD Medan, Muhammad Nasir, menyebutkan persoalan wisata halal di kawasan Danau Toba sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Karena wisata halal yang dimaksud, tidaklah menghapus adat istiadat atau kebiasaan masyarakat di sekitar danau terbesar di Asia itu. Karena beragamnya wisatawan yang datang ke kawasan Danau Toba, perlu ditata kuliner agar lebih menarik.

“Penataan kuliner itulah yang perlu, dimana ada wisatawan yang tidak bisa makan kuliner yang disediakan di sana saat ini karena tidak sesuai dengan ajaran agamanya,” tutur Nasir, Kamis (5/9).

Politisi PKS ini menambahkan, tidak semua pengunjung nantinya, bisa mengkonsumsi makanan yang ada di kawasan Danau Toba. Para turis, baik lokal dan mancanegara yang sangat membutuhkan kawasan kuliner yang benar-benar nyaman dan layak dikonsumsi semua orang.

“Lagipula, keberadaan objek wisata danau yang cukup indah itu perlu ‘dijual’ ke manca negara agar semakin banyak turis yang datang. Dengan marketing yang baik, diyakini akan banyak pengunjung yang datang ke kawasan Danau Toba,” ujarnya.

Menurut Nasir, semua itu perlu penataan yang benar dan baik agar seluruh wisatawan yang datang bisa merasa nyaman berada di kawasan Danau Toba. Contohnya kawasan makanan halal di beberapa titik, sehingga kalau wisatawan ingin menikmati kuliner di tempat yang jelas, tanpa ragu-ragu lagi. Selain itu perlu dipertegas, mana warung atau lokasi yang menyediakan menu makanan halal bagi kaum muslim.

Advertisement

“Saya mengingatkan agar seluruh masyarakat Sumut untuk tidak terprovokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dengan isu yang tidak jelas sehingga terjadi kekacauan. Bayangkan saja, kalau akibat adanya perselisihan pendapat dan lainnya, pemerintah pusat tidak jadi menggelontorkan dana yang begitu besar untuk membangun kawasan Danau Toba. Siapa yang rugi, sudah pasti masyarakat Sumut dan warga seputaran Danau Toba,” imbuhnya.

Masih kata Nasir, masyarakat Batak yang tinggal di seputaran Danau Toba tidak perlu mempermasalahkan adat istiadat, karena kebiasaan warga setempat tidak diganggu. Hanya perlu ditambahkan lokasi kuliner bagi para wisatawan. Di destinasi wisata manapun, akan disiapkan kuliner bagi para pengunjung sesuai dengan keinginan mereka.

“Keberagaman umat beragama, sudah lama ada di Indonesia dan hal itu tidak dipermasalahkan. Namun jangan sampai adanya statemen wisata halal di salah artikan sehingga menimbulkan polemik. Lebih baik semua elemen menyikapinya dengan positif dan kepala dingin, sehingga jelas arahnya dan hasilnya bisa bagus,” pungkasnya.(wol/mrz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN