Dampak Kabut Asap, Pemprovsu Imbau Kurangi Aktivitas dan Liburkan Sekolah

foto: Biro Humas dan Keprotokolan Setda Provsu
Iklan

KUALANAMU, Waspada.co.id – Untuk mengantisipasi dampak buruk kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menginstruksikan kabupaten/kota meliburkan sekolah, khususnya tingkat TK/PAUD dan SD.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Sumut (Wagubsu), Musa Rajekshah, dalam konferensi pers di Ruang VIP Kualanamu International Airport (KNIA), Selasa (24/9). Wagubsu menyampaikan BMKG menyebutkan kepekatan kabut asap sudah menurun. Namun, melihat arah angin dan titik panas (hotspot) di Riau, kabut asap berpotensi meningkat dan berdampak buruk terhadap kesehatan.

“Untuk itu, sebagaimana instruksi gubernur, kami mengimbau seluruh masyarakat Sumut untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan senantiasa mengenakan masker. Dampak dari bertambahnya kabut asap ini, kemungkinan akan terasa sore atau malam ini,” kata Wagub.

Untuk saat ini, kata pria yang akrab disapa Ijeck ini, Pemprovsu akan mengambil langkah melalui Dinas Pendidikan menginstruksikan libur sekolah di seluruh kabupaten/kota untuk PAUD, TK, dan SD. Selain itu, menginstruksi rumah sakit, klinik-klinik, dan Puskesmas siaga melayani masyarakat selama 3×24 jam.

“Antisipasi sebelum-sebelumnya telah kita lakukan dengan membagikan masker kepada seluruh masyarakat di seluruh kabupaten/kota se-Sumut, kurang lebih 500 ribu masker telah dibagikan dan ini akan terus kita lakukan,” jelasnya.

iklan

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Riadil Akhir Lubis, menambahkan pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, Dnas Kesehatan, dan unsur Forkopimda untuk selalu siaga selama satu minggu terakhir.

Kepala BMKG Wilayah I Medan, Edison Kurniawan, menginformasikan, hasil pemantauan yang dilakukan menggunakan alat PM 10 di Stasiun Klimatologi Deliserdang, konsentrasi partikulat di Sumut menunjukkan 116,5 mikrogram/meter kubik. Artinya, masih berada di bawah ambang batas normal 150 mikrogram/meter kubik.

“Kondisi ini sebenarnya masih cukup fluktuatif. Saya setuju dengan imbauan Bapak Wagub untuk menghindari aktivitas di luar rumah. Karena partikulat atau PM 10 ini memang sangat memengaruhi kesehatan pernapasan dan berpotensi menjadi penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” tuturnya.

“Di Riau, BMKG melakukan upaya melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang bekerja sama dengan TNI dan Polri, yakni dilakukan penyemaian garam sebagai sumber inti kondensasi untuk terjadinya hujan, diharapkan bisa membantu penurunan titik atau pusat panas, ” papar Edison.

Terkait aktivitas penerbangan di Sumut diinformasikan oleh Executive General Manager KNIA Bayu Iswantoro. Disebutkan pada Selasa ini belum ada gangguan penerbangan akibat kabut asap di KNIA. (wol/aa/data2)

editor AUSTIN TUMENGKOL

Iklan