Ekosistem Batangtoru Makin Terancam

foto: istimewa

JAKARTA, Waspada.co.id – Demi menyelamatkan spesies orangutan langka yang baru ditemukan dari kepunahan di tangan proyek waduk seharga 1,6 juta dolar AS yang dibangun oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), diperkirakan akan terjadi pertikaian panjang.

Proyek kontroversi yang didanai oleh pihak luar negeri memunculkan banyak polemik di tengah temuan dari para ahli bahwa pembangunan tersebut dapat mengakibatkan hilangnya populasi Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis), yang telah ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) sangat langka (critically endangered).

Ditambah sederet ancaman bencana lingkungan yang diprediksi akan terjadi akibat perubahan ekosistem, dari gempa bumi hingga ancaman sosial ekonomi masyarakat terdampak. Belum lagi, perusahaan terus mengabaikan peringatan darurat yang diberikan para ahli dan menyerahkan keputusan pada Presiden Jokowi.

Organisasi lokal maupun internasional telah melakukan berbagai macam protes melindungi orangutan, salah satunya Orangutan Information Centre (OIC) dan Center of Orangutan Protection (COP), dan Mighty Earth.

Baru-baru ini secara mengejutkan muncul sebuah siaran pers yang mengatakan terdapat kesepakatan antara NSHE dan PanEco, salah satu LSM asal Swiss yang sebelumnya menyatakan proyek tersebut sebagai “ancaman terbesar jangka panjang dari Orangutan Tapanuli”. CEO Mighty Earth, Glenn Hurowitz, pun menyatakan kekecewaannya.

Advertisement

“Ini cukup memalukan bagaimana akhirnya PanEco menyerah atas intimidasi alih-alih melaporkan tindakan perusahaan tersebut ke KPK maupun polisi. Pihak berwenang di Indonesia dan Swiss harus segera investigasi kesepakatan kotor ini dan menuntut NSHE bertanggung jawab atas yang mereka lakukan di ekosistem Batangtoru,” katanya dalam rilis yang diterima Waspada Online, Senin (26/8).

Disebutkan, sikap PanEco menerima tawaran NSHE perlu diteliti lebih lanjut karena selama ini konsisten dalam komitmen menjaga ekosistem Batangtoru. Dalam situsnya, masih tertera jelas bahwa pembangunan PLTA di lokasi tersebut menjadi ancaman jangka panjang terbesar bagi kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli.

“PLTA yang sedang dibangun baru-baru ini di sepanjang Sungai Batangtoru merupakan ancaman jangka panjang terbesar bagi Orangutan Tapanuli. Konstruksi dari PLTA dan infrastruktur terkaitnya, jalur listrik, dan spekulasi lahan yang terkait akan mengakibatkan fragmentasi cukup parah dari hutan hujan dan mengisolasi populasi Orangutan Tapanuli, membuatnya rentan punah,” sebut Glenn lagi.

“Kesepakatan kotor ini juga tidak menyembunyikan fakta proyek tersebut tidaklah diperlukan, mengingat Sumatera masih memiliki Sarulla Geothermal yang dapat ditingkatkan kapasitasnya dan mampu menyediakan listrik dengan mengurangi karbon tanpa menganggu habitat Orangutan Tapanuli. Pemerintah Indonesia perlu menginvestigasi lebih dalam atas integritas proses pembuatan keputusan mengizinkan proyek tersebut,” lanjut Glenn.

“Kami harap Presiden Jokowi akan melanjutkan usahanya untuk menjaga ‘Wonderful Indonesia’, mendukung dan berjuang memerangi korupsi dengan menghentikan proyek PLTA Batangtoru untuk melindungi kekayaan bangsa dan mendukung infrastruktur ramah lingkungan,” tutup Glenn. (wol/rel/data2)