Jalur Zonasi, Tren Pindah Rumah ke Sekolah Favorit Meningkat

Iklan

Kebijakan sistem zonasi saat ini, kata Ike, terutama diterapkan untuk sekolah negeri jenjang SMP dan SMA. Artinya, jika melihat perjalanan hidup seseorang secara umum, kebijakan ini memang baru akan berdampak ketika mereka berusia 35-40 tahun ke atas dan memiliki anak usia sekolah tingkat lanjut.

Sangat mungkin belum terbayang untuk mereka yang baru membeli rumah pertama kali di usia yang relatif masih muda, misal 25-30 tahun, untuk memikirkan tentang kedekatan rumah dengan sekolah yang diinginkan.

Dengan demikian, lanjut Ike, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah ini.

Pertama, yang wajib dilakukan adalah mempelajari area rumah baru tersebut. Sangat dianjurkan untuk melakukan pengecekan mengenai rencana tata kota daerah yang bersangkutan.

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan, seseorang tidak harus tinggal di rumah yang sama seumur hidupnya. Mereka bisa mempertimbangkan untuk melakukan upgrade atau pindah rumah pada saat membutuhkannya.

iklan

Dalam kasus ini, ketika anak-anak sudah berusia sekitar 9-10 tahun, mereka bisa upgrade atau pindah ke daerah di mana sekolah incaran tersebut berada. Dengan demikian, orang tua anak bisa mengurus sesuai prosedur yang berlaku bila sistem zonasi sekolah tetap diberlakukan.

Anak-anak pun bisa beradaptasi dulu dengan lingkungan barunya sebelum memutuskan sekolah mana yang nantinya akan diambil. Namun, perumahan baru yang ada saat ini biasanya memang memiliki lokasi yang relatif jauh dari sekolah-sekolah negeri.

Hal ini akan menyulitkan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negeri pilihan mereka jika tidak masuk ke area sistem zonasi sekolah itu. Hendra Mulya, 52, rela menjual rumahnya dan pindah domisili demi anaknya bisa masuk ke sekolah yang dinginkan.

Dia mengaku pindah ke rumah baru untuk bisa mendaftarkan anaknya melalu jalur zonasi. Dengan adanya sistem zonasi, mustahil bagi Hendra memenuhi keinginan anaknya untuk sekolah di SMPN 49 Jakarta Timur dengan jalur murni.

Hendra pun menjual rumah lamanya dan mencari hunian baru di daerah Kramatjati, Jakarta Timur, jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dibuka. Tetapi, persoalan tak hanya selesai dengan membeli rumah baru.

Sebab, pindah rumah juga harus mengurus perubahan domisili. “Saya sudah mengurus pindah domisili dari bulan September 2018 lalu, karena syarat untuk bisa mengikuti jalur zonasi ini harus memiliki kartu keluarga dan telah berdomisili selama 6 bulan lamanya. Jadi, saya menjual rumah lama dan memilih membeli di wilayah yang banyak menyediakan sekolah negeri terbaik,” ujar Hendra.

Iklan