Organisasi HAM Jabarkan Cara China Memata-Matai Warga Muslim Uighur di Xinjiang

foto: Keluarga Uighur memegang foto sanak famili mereka yang ditahan di kamp pendidikan ulang di Xinjiang. (AFP Photo)
Iklan

NEW YORK, Waspada.co.id – Organisasi hak asasi manusia (HAM), Human Rights Watch mengeluarkan laporan yang menjabarkan bagaimana pemerintah China menggunakan aplikasi ponsel untuk memata-matai warga muslim Uighur di wilayah Xinjiang.

Laporan setebal 68 halaman itu dirilis, Kamis (2/5), berjudul “Algoritma Represi Tiongkok: Rekayasa Terbalik Aplikasi Pengawasan Massal Kepolisian Xinjiang,”.

Laporan itu memaparkan bukti baru tentang pengintaian di Xinjiang, di mana pemerintah telah menargetkan 13 juta Muslim Uighur untuk meningkatkan penindasan sebagai bagian dari “Kampanye Gebuk Keras Melawan Terorisme yang Kejam.”

Antara Januari 2018 dan Februari 2019, Human Rights Watch mampu melakukan rekayasa terbalik aplikasi seluler yang digunakan para petugas untuk terhubung ke Platform Operasi Gabungan Terpadu (IJOP), program kepolisian Xinjiang yang mengumpulkan data masyarakat dan menandai mereka yang dianggap berpotensi mengancam.

Dengan memeriksa desain aplikasi ini, yang pada saat itu tersedia untuk umum, Human Rights Watch mengungkap secara spesifik jenis perilaku dan orang yang jadi sasaran sistem pengawasan massal ini.

iklan

“Penelitian kami menunjukkan, untuk kali pertama, polisi Xinjiang menggunakan informasi yang dikumpulkan secara ilegal tentang perilaku orang-orang yang sebenarnya tidak melanggar hukum – dan menggunakannya untuk melawan mereka,” kata Maya Wang, peneliti senior Tiongkok di Human Rights Watch mengutip situs Human Rights Watch.

“Pemerintah Tiongkok memantau setiap aspek kehidupan orang-orang di Xinjiang, memilih orang-orang yang tidak mereka percaya, dan menerapkan pengawasan ekstra pada mereka.”

Human Rights Watch juga merilis tangkapan layar dari aplikasi tersebut.

Pihak berwenang Xinjiang sedang mengumpulkan beragam informasi dari warga biasa, mulai dari golongan darah hingga tinggi badan orang-orang, dari “atmosfer keagamaan” hingga afiliasi politik mereka.

Platform polisi ini menargetkan 36 jenis orang untuk pengumpulan data.

Mereka termasuk orang-orang yang berhenti menggunakan ponsel pintar, mereka yang gagal “bersosialisasi dengan tetangga,” dan mereka yang “mengumpulkan uang atau bahan bangunan untuk masjid dengan antusias.”(cnn/data1)

Iklan