Membaca Arah Politik ‘Dua Hati’ Demokrat

Iklan

Demokrat, kata Yunarto, juga mesti berkaca dari sikapnya selama 2014-2019. Diketahui, Demokrat tidak menjadi oposisi yang keras. Mereka berada di tengah-tengah ketika Gerindra – PKS beradu narasi dengan PDIP dan koalisi pemerintah.

Saat Pemilu 2019 pun, banyak kader Demokrat di berbagai daerah yang justru mendukung paslon Jokowi – Ma’ruf. Ketua DPD Gerindra Jawa Timur Sukarwo salah satunya. Padahal Demokrat terdaftar sebagai anggota koalisi pengusung Prabowo – Sandi.

Sikap tersebut dinilai membuat Demokrat babak belur di Pemilu 2019. Perolehan suara pileg, berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei, Demokrat hanya mendapat sekitar 7-8 persen. Diprediksi akan berada di bawah PKB, PKS, dan NasDem.

“Sikap Demokrat selama ini, saya tidak ingin bilang seperti banci, tetapi dua kelamin secara politik. Mau tidak mau batu loncatan ya menjadi bagian dari kabinet,” kata Yunarto.

Yunarto menganggap Demokrat tidak akan maksimal apabila menjadi oposisi pemerintahan Jokowi selanjutnya. Popularitas tidak akan meningkat signifikan hingga 2024 mendatang.

iklan

Menurut Yunarto, selama ini oposisi sudah identik dengan Gerindra, PKS serta alumni 212 dan ormas-ormas Islam seperti FPI. Oleh karena itu, Demokrat tidak akan terlalu dilihat perannya.

“Maka yang akan lebih terlihat adalah Gerindra dan PKS. Simbol oposisi kan bukan Demokrat,” ucap Yunarto.

Iklan