Kapal Induk AS ke Teluk, Iran: Washington tak Berani Perang

Ilustrasi Kapal Induk USS Ronald Reagen (wikipedia)
Iklan

TEHERAN, Waspada.co.id – Komandan Korps Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Hossein Salami mengkritik langkah Amerika Serikat (AS) mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Teluk. Dia menilai tindakan itu sebagai perang urat saraf.

“AS sedang berupaya dengan langkah ini untuk mengintimidasi rakyat dan beberapa pejabat militer tentang terjadinya perang,” kata Salami saat berbicara di parlemen Iran pada Ahad (12/5), dilaporkan laman Anadolu Agency.

Ia pun mengomentari tentang potensi terjadinya perang antara Iran dan AS. “Perang Amerika melawan Iran tidak mungkin, karena Washington tidak memiliki kemampuan dan keberanian untuk berperang melawan negara ini,” ujarnya.

Selain kapal induk USS Abraham Lincoln, AS diketahui turut mengirim pesawat bomber B-52 ke Teluk. Menurut Presiden AS Donlad Trump, pengerahan armada militer itu dilakukan karena terdapat ancaman serius. Namun, dia enggan menyingkap secara gamblang ancaman yang dimaksud.

Trump diketahui telah menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Teheran. Sanksi kali ini membidik sektor industri logam Iran, mencakup besi, baja, aluminium, dan tembaga.

iklan

“Tindakan hari ini menargetkan pendapatan Iran dari ekspor logam industri, 10 persen dari ekonomi ekspornya, dan membuat negara-negara lain memperhatikan bahwa mengizinkan baja Iran serta logam lain ke pelabuhan Anda tidak akan ditoleransi lagi,” kata Trump dalam sebuah pernyataan pada Rabu lalu.

Dia mendesak Iran agar segera mengubah kebijakannya, terutama terkait program rudal dan nuklirnya. “Teheran dapat mengharapkan tindakan lebih lanjut kecuali secara fundamental mengubah perilakunya,” ujarnya.

Pengumuman sanksi terbaru terhadap Iran dilakukan bertepatan dengan peringatan keputusan AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran atau dikenal dengan istilah Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Langkah itu diambil Trump pada Mei tahun lalu. .

Trump menyebut JCPOA cacat karena tak mengatur tentang program rudal balistik Iran, kegiatan nuklirnya selepas 2025, dan perannya dalam konflik Yaman serta Suriah. Setelah keluar dari JCPOA, Washington memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Sanksi itu membidik sektor energi, otomotif, keuangan, dan perdagangan logam mulia Iran. (republika/data2)

Iklan