10 Game Online Bakal Diblokir Pemerintah, Ini Kata Gamers Medan

Gamers medan, Hafiz Fadila dan Andri Daniel.
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Brenton Harrison Tarrant pelaku pembunuhan puluhan kaum muslimin saat melaksanakan Sholat Jumat di Selandia Baru beberapa waktu lalu kabarnya terinspirasi dari salah satu game online. Meskipun ia menyatakan aksinya tersebut berafiliasi pada gerakan terorisme Norwegia.

Menyikapi hal itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah mengkaji fatwa haram sejumlah game online yang dianggap sebagai wadah latihan kelompok-kelompok seperti gerakan Brenton Harrison Tarrant, salah satunya Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG).

Bergulirnya wacana tersebut membuat para gamers di Medan bereaksi. Hafiz Fadila, salah seorang pemain game PUBG, tidak setuju jika game tersebut dihapuskan. Sebab ia merasa bahwa permainan ini hanya sebagai ajang untuk menghilangkan kejenuhan.

“Game ini bukan pemicu aksi teroris. Kan enggak mungkin dari dunia virtual masuk ke dunia nyata. Aksi teroris yang lalu mungkin karena pelakunya punya gangguan jiwa,” ungkapnya, Jumat (29/3).

Senada dengan Hafiz, Andri Daniel menyebut bahwa game tidak bisa dijadikan inspirasi untuk berbuat aksi kriminal. Semuanya itu kembali pada pribadinya masing-masing. Jika game tersebut hanya dianggap sebagai permainan saja maka hal tersebut tidak mungkin terjadi.

iklan

“Aku sebagai gamers sendiri tidak setuju karena game itu dibuat untuk menghibur. Lalu, orang yang menyalah gunakan game cuma beberapa orang aja, bukan semuanya. Enggak semua orang kalau main game langsung jadi teroris. Jadi seharusnya dikaji lagi lah kebijakan itu,” harapnya.

Untuk diketahui, ada 10 permainan elektronik (mobile game) yang akan diblokir pemerintah. Di antaranya Arena of Valor (AOV), Free Fire, Point Blank, PUBG dan lainnya. Sampai berita ini diturunkan, Menteri Komunikasi masih mempelajari sejumlah mobile game yang berbau kekerasan dan masih menunggu masukan sejumlah pihak, salah satunya MUI. (wol/mrz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan