Erdogan dan Trump Bahas Kerja Sama Dagang & Stabilitas Suriah

dok. AP Photo

WASHINGTON, Waspada.co.id – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membahas rencana penarikan pasukan AS dari Suriah melalui telepon pada Kamis (22/2) malam waktu setempat. Kedua pemimpin sepakat bahwa penarikan pasukan AS dari Suriah harus dilakukan demi kepentingan bersama.

Seperti dilansir Anadolu Agency, menurut sumber-sumber kepresidenan Turki, kedua pemimpin menekankan perlunya mendukung proses politik di negara yang tengah dilanda perang itu.Trump mengatakan akan menyisakan pasukan untuk penjaga perdamaian.

Erdogan dan Trump juga menegaskan kembali tekad negaranya dalam memerangi pelbagai bentuk terorisme. Sumber tersebut mengatakan, kedua pemimpin juga sepakat untuk lebih meningkatkan hubungan ekonomi dengan menetapkan tujuan kerja sama senilai 75 miliar dolar AS dalam perdagangan bilateral.

Gedung Putih dalam sebuah pernyataan secara terpisah mengatakan, bahwa Erdogan dan Trump sepakat agar terus berkoordinasi menyoal penciptaan zona aman potensial di Suriah Utara.

Guna pembicaraan lebih lanjut, Penjabat Menteri Pertahanan Patrick Shanahan dan Kepala Staf Gabungan Joseph Dunford akan menjadi tuan rumah bagi rekan-rekan Turki dalam kunjungan pada pekan ini.

Advertisement

Seperti diketahui, Suriah sejak awal 2011 mengalami konflik saudara ketika rezim Bashar al-Assad menindak demonstran dengan kekerasan. Desember lalu, Trump membuat pengumuman mengejutkan bahwa AS akan menarik 2.000 pasukannya dari Suriah. AS mengklaim ISIS telah dikalahkan di negara yang kini menderita kelaparan itu.

Namun Trump mendapat tekanan dari beberapa penasihatnya untuk mengubah kebijakan tersebut guna melindungi pejuang Kurdi yang berjuang melawan negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Tentara AS pun yang masih disisakan juga akan digunakan untuk mencegah meluasnya pengaruh Iran di kawasan.

“Sejumlah kecil pasukan penjaga perdamaian sekitar 200 orang akan tetap berada di Suriah selama beberapa waktu,” kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders dalam sebuah pernyataan. (republika/data2)