Eni Saragih Akui Duit Rp2 Miliar untuk Munaslub Golkar atas Persetujuan Sarmuji

Eni Saragih usai bersaksi di sidang kasus dugaan korupsi proyek PLTU Riau-1 (Foto: Arie Dwi Satrio/Okezone)
Iklan
agregasi

 

JAKARTA – Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih mengaku telah menyetorkan uang senilai Rp2 miliar yang diduga hasil dugaan suap proyek PLTU Riau-1 untuk Munaslub Partai Golkar. Uang Rp2 miliar tersebut disetorkan Eni atas persetujuan Wakil Sekretaris Steering Committee (SC) Munaslub Partai Golkar, Sarmuji.

Eni sendiri kala itu menjabat sebagai Bendahara Umum (Bendum) Munaslub Golkar. Dialah yang mengatur pengeluaran uang untuk segala keperluan munaslub. Kata Eni, uang untuk Munaslub Golkar dapat dicairkan apabila telah mendapat persetujuan Sarmuji.

“Uang memang tidak diterima Pak Sarmuji, tapi persetujuan oleh Pak Sarmuji, karena kan saya belibet, pengeluaran banyak, enggak mau pengeluaran itu membengkak. Jadi, setiap pengeluaran saya mau asal di acc Pak Sarmuji,” ungkap Eni saat menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa perkara suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (22/1/2019).

Eni menjelaskan, setiap panitia Munaslub Golkar harus menyerahkan bukti pengeluarannya. Dirinya pun masih menyimpan sejumlah kuitansi pengeluaran Munaslub Golkar yang diduga hasil dari suap proyek PLTU Riau-1.‎ Bukti-bukti tersebut telah disita oleh penyidik KPK.

“Saya pernah sampaikan di proses penyidikan, waktu itu rumah saya pernah digeledah, ada kuitansi-kuitansi bahwa ini memang uang untuk Munaslub Golkar,” terangnya.

iklan

Sarmuji pun telah mengembalikan uang suap dari Eni Saragih untuk kepentingan Munaslub Golkar sebesar Rp712 juta ke KPK. Dalam persidangan s‎ebelumnya, Wasekjen Partai Golkar tersebut juga telah mengakui bahwa telah mengembalikan uang tersebut.

Dijelaskan Eni, uang Rp712 juta tersebut merupakan bagian dari Rp2 miliar yang pernah disetorkan untuk Munaslub Golkar. Ia menyebut, uang Rp712 juta itu digunakan untuk kepentingan SC Munaslub Golkar.

“Uang Rp700 juta untuk keperluan SC. Kan saya sampaikan, ada untuk keperluan pra-munaslub, munaslub, dan untuk keperluan kegiatan yang lain. Nah, keperluan SC itulah yang Rp700 juta,” bebernya.

Dalam perkara ini, Eni Saragih didakwa menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp5.600.000.000 dan SGD40.000 dari beberapa direktur dan pemilik perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas).

Selain gratifikasi, Eni Maulani Saragih juga didakwa menerima suap sebesar Rp4.750.000.000 secara bertahap dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo. Uang tersebut diduga berkaitan dengan proyek pembangunan mulut tambang PLTU Riau-1.

Uang itu sengaja diberikan Kotjo kepada Eni untuk mendapatkan proyek Independent Power Produce (IPP) PLTU mulut tambang Riau-1 antara PT pembangkitan Jawa-Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Limited dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC).

Iklan