Menurut Survei, Politik Uang Menurun Jelang Pemilu 2019

Ilustrasi

JAKARTA, Waspada.co.id – Founder dan CEO Polmark Indonesia Eep Saifullah Fatah menilai aggapan bahwa politik uang dalam Pemilu 2019 sebagai penentu utama pemenangan sama sekali tidak benar.

“Tapi belakangan bahkan terlihat tren bahwa tingkat efektivitas politik uang semakin menurun di berbagai daerah di Indonesia. survei-survei PolMark Indonesia sepanjang 2012-2018 menunjukkan adanya kecenderungan terbatasnya efektivitas politik uang,” kata Eep di Hotel Valenda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (17/9).

Eep menilai, sejauh ini dalam kontestasi politik apapun baik pileg maupun pilpres penggunaan politik uang masih dianggap menentukan kemenangan dibandingkan kerja politik pemenangan.

“Sebagian besar kandidat menyakini, politik uang adalah cara yang efektif untuk mendapatkan suara, sehingga fokus kerja pemenangan seringkali diabaikan kecuali mencari formula untuk mendistribusikan politik uang,” ujarnya.

Sementara itu, kajian PolMark Research CenterPolMark Indonesia (2012-2018) justru menunjukan adanya sebaran yang menjelaskan semakin tinggi kecenderungan kemandirian politik pemilih. ” Maka efektifitas politik uang kecenderungannya menurun,” ucapnya.

Advertisement

Menurutnya, hasil olahan data dari sebagian survei di tingkat lokal yang dilakukan oleh PolMark Research Center. Data yang diolah meliputi hasil 3 survei tingkat Nasional, 57 survei di level Provinsi, 58 survei di level Kabupaten dan 24 survei di level Kota.

“Keseluruhannya meliputi hasil 142 survei yang dilakukan dalam rentang waktu 6 Februari 2012 sampai dengan 11 Juni 2018,” jelasnya.

Selain itu, jumlah responden untuk masing-masing survei adalah 1.200 responden untuk level Provinsi serta 880 responden dan 440 respoden untuk level Kabupaten dan Kota.

“Keseluruhan 142 survei ini mengumpulkan pendapat dari 123.330 responden atau calon pemilih,” ucapnya. (inilah/ags/data1)