Kisah Pilu Puluhan Anak Panti “Kami Dibius dan Diperkosa“

Kasus Pelecehan Seksual India Terus Meningkat

Aktivis mengatakan kejahatan dengan kekerasan terhadap perempuan sedang meningkat di India meskipun undang-undang yang keras diberlakukan setelah pemerkosaan dan pembunuhan pada 2012 terhadap seorang mahasiswa di New Delhi, yang memicu kemarahan internasional. Kasus itu melihat pengadilan “jalur cepat” perlu dibentuk untuk mencegah keterlambatan dalam memperoleh keadilan.

Pertama, Departemen Hukum dan Keadilan mengumumkan pekan lalu bahwa Departemen itu akan mendirikan pengadilan jalur cepat untuk menangani kasus-kasus pemerkosaan anak. “Mengapa tempat penampungan perempuan diawasi oleh laki-laki? Ini harusnya hanya untuk wanita,” ujar Direktur Pusat Penelitian Sosial di New Delhi, Ranjana Kumari.

Kepala polisi Kaur mengatakan semua gadis di panti telah dipindahkan ke berbagai rumah perawatan di Bihar. Tetapi polisi belum menemukan keluarga mereka. Selain ada yang berasal dari Bihar, ada juga korban yang berasal dari negara tetangga Bengal Barat, yang berjarak lebih dari 500 km.

Ia mengatakan tempat berbahaya bukan hanya ada di Bihar, tetapi masih banyak lokasi lain. “Gadis-gadis di rumah semacam itu hampir ditahan dan mereka disiksa oleh kebanyakan pria yang mengawasi mereka, mengunjungi mereka, (ada bahkan) politisi di antara mereka,” ujarnya.

Advertisement

Menurut LSM Child Rights and You seorang anak mengalami pelecehan seksual setiap 15 menit di India. Kejahatan terhadap anak di bawah umur telah meningkat lebih dari 500 persen selama dekade terakhir.

Menurut data Biro Catatan Kejahatan Nasional pada 2016, polisi di India menerima 38.947 laporan pemerkosaan dibandingkan dengan hampir 35 ribu pada 2015.

Saat ini korban pemerkosaan di Bihar sedang berupaya pulih dari luka mereka. “Saya mengunjungi gadis-gadis itu, mereka aman sekarang, semangat mereka tidak rusak. Mereka menceritakan kisah-kisah horor mereka kepada saya,” ujar Mepala komisi wanita Bihar, Dilmani Mishra.

“Para gadis berkata kepada saya, ‘Kami akan mendapatkan pendidikan, kami akan menjadi petugas polisi, perwira tinggi dan kami akan membuat mereka menderita, mereka yang membuat kami menderita’,” ujarnya.

(devi)