Kisah Pilu Puluhan Anak Panti “Kami Dibius dan Diperkosa“

Aksi unjuk rasa terhadap maraknya aksi pemerkosaan di India (Wonderslist.com)

NEW DELHI, Waspada.co.id – Sebanyak 34 anak perempuan yang berada di sebuah panti sosial di India menjadi korban pemerkosaan. Di antara para korban ada yang berusia tujuh tahun dan korban tertua berusia 18 tahun.

Dilansir Aljazirah, Selasa (31/7) mereka diperkosa di tempat penampungan anak-anak di Bihar, India. Kasus tersebut telah menyebabkan kemarahan nasional atas pengelolaan panti. Sebanyak 44 anak tinggal di Seva Sankalp Samiti, sebuah rumah untuk para gadis yang melarikan diri dari keluarga mereka atau diselamatkan dari stasiun kereta api dan jalan-jalan.

Setidaknya 10 orang telah ditangkap sejauh ini, termasuk kepala panti, Brajesh Thakur. Namun ia menyangkal telah melakukan tindakan pemerkosaan. Menurut keterangan polisi, salah satu terdakwa telah melarikan diri.

Kesaksian para gadis itu pertama kali disampaikan pada 27 Juli di pengadilan khusus untuk kasus-kasus yang berkaitan dengan Perlindungan Anak-anak India dari Pelanggaran Seksual (POCSO). Undang-undang POCSO diubah pada April untuk memperkenalkan hukuman mati bagi pelaku pemerkosaan anak-anak di bawah 12 tahun.

Pelecehan di Seva Sankalp Samiti terungkap setelah sebuah laporan yang ditugaskan pemerintah pada April ke LSM 110 Bihar dari Tata Institute of Social Sciences. Laporan itu menemukan contoh kekerasan yang mengerikan di penampungan dan merekomendasikan penyelidikan segera.

Advertisement

Pengakuan para korban kepada polisi menggambarkan kejamnya pelecehan yang mereka terima. Seorang anak berusia tujuh tahun mengatakan kepada polisi bahwa dia sering dipukuli oleh pemimpin panti Brajesh Thakur. Anak-anak panti menjuluki Thakur sebagai “paman pemburu”, atau paman yang membawa cambuk.

Seorang gadis 10 tahun mengatakan saat terbangun di pagi hari ia menemukan pakaiannya berserakan di lantai setelah dibius di malam harinya. Ia juga mengeluh sakit di antara kedua kakinya.

Gadis lain mengaku ditelanjangi, dibawa ke teras, dan dipukuli dengan tongkat. Korban lain menyebut pelaku pelecehan menyiramkan air panas ke tubuhnya untuk memaksanya mengambil obat-obatan yang diduga sebagai obat bius.

Jika korban melawan saat disiksa, maka dia akan kelaparan selama berhari-hari dan akhirnya meminta maaf karena perlawanannya. Menurut pernyataan gadis-gadis itu kepada polisi, beberapa orang dipukuli ketika mencoba menghalangi aksi pemerkosaan.

Saat ini masih belum jelas kapan pelecehan itu terjadi dan sudah berapa lama berlangsung. Tetapi para korban mengatakan kekerasan seksual merupakan hal rutin yang mereka terima selama tinggal di panti. Beberapa orang di antara korban telah tinggal di panti selama tiga tahun. Panti telah ditutup bulan lalu setelah penangkapan.