Tren Pelemahan Rupiah, Pemerintah Harus Realistis

ilustrasi WOL
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Sejauh ini pelaku pasar telah melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi kinerja mata uang rupiah.

Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan tren pelemahan rupiah masih terus berlanjut.

“Sampai sekarang saja rupiah sudah berada di level 14.405 per US Dolar, sangat terpuruk kinerjanya. Padahal sejumlah upaya sudah dilakukan BI. Dalam posisi ini saya menilai BI sudah maksimal dalam melaksanakan perannya,” ujar Gunawan kepada Waspada Online, Selasa (3/7).

Dikatakan, kenaikan Bunga Acuan BI sudah dilakukan, dan dalam kurun waktu singkat sejak masa jabatan Gubernur BI yang lama berakhir, telah terjadi kenaikan BI 7 DRR sebesar 100 basis poin. Namun hasilnya belum mampu membuat rupiah perkasa terhadap US Dolar. Karena kita memiliki masalah fundamental yang sangat kuat korelasinya dnegan sisi eksternal.

“Lihat saja harga minyak mentah dunia bertengger dikisara $74 per barel saat ini. Seharusnya memang dilakukan penyesuaian (dinaikkan) terhadap harga BBM di dalam negeri. Namun pemerintah memang sudah berjanji tidak menaikkan BBM dan TDL. Ini masalahnya. Saya menilai memang tidak 100% pemerintah salah dalam memberikan janji tersebut,” tutur Ekonom Sumu ini.

iklan

Hanya saja, memang ada fluktuasi harga komoditas khususnya serta masalah pada ekonomi global belakangan ini. Dimana perang dagang serta rencana kenaikan suku bunga The FED menjadi isu krusial yang membuat arah ekonomi dunia berubah.

“Dan sayangnya lebih banyak merugikan perekonomian nasional. Sebelumnya pemerintah berjanji di saat sejumlah indikator eksternal memang memungkinkan tidak akan ada penyesuaian sejumlah harga. Namun sayang seiring waktu berjalan semuanya berubah,” jelasnya.

Masalah pelemahan rupiah saat ini itu gendangnya ada dua. Yakni ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di AS, dan defisit neraca perdagangan nasional yang melebar. Nah kita harus kendalikan defisit tersebut, salah satu jalan keluarnya adalah dengan menaikkan harga BBM bersubsidi dan memungkinkan untuk menaikkan tariff dasar listrik.

“Meskipun pelemahan rupiah sejauh ini masih belum akan merusak sendi-sendi perekonomian, namun di tengah ketidakpastian global saya menilai potensi pelemahannya harus diantisipasi jauh hari dari sekarang. Ini demi kebaikan kita bersama. Kita dihadapkan pada masalah eksternal di luar kemampuan kita dalam mengendalikannya,” tukas Gunawan.(wol/eko/data1)
Editor: SASTROY BANGUN

Iklan