RUU Narkotika Bakal Percepat Eksekusi Mati

Ketua DPR Bambang Soesatyo (Foto: Ist)

JAKARTA, WOL – Ketua DPR, Bambang Soesatyo mengatakan parlemen akan menggodok soal hukuman maksimal dan percepatan eksekusi mati terhadap bandar narkoba dalam revisi Undang-undang Narkotika.

“DPR tidak main-main dalam melakukan revisi UU Narkotika, para bandar yang tertangkap akan diberikam hukuman maksimal. Bagi mereka yang sudah divonis hukuman mati akan kita minta segera dieksekusi,” kata Bamsoet, Jumat (6/4) malam.

Selain itu, kata Bamsoet, pengetatan aturan rehabilitasi bagi mereka yang tertangkap memakai narkoba juga akan menjadi bagian dari revisi UU Narkotika. Sebab, jangan sampai rehabilitasi dijadikan tempat pelarian agar tidak terkena sanksi hukum.

Sehingga, lanjut dia, setelah RUU Narkotika rampung maka tak ada lagi artis atau orang berduit yang tertangkap karena diduga pakai narkoba tapi hukumannya hanya rehabilitasi. Namun, rakyat kecil atau orang susah diseret ke meja hijau alias persidangan.

“Harus ada asesmen yang jelas dan ketat untuk seseorang jika untuk diberikan sanksi rehabilitasi saja,” ujar Anggota Fraksi Partai Golkar ini.

Advertisement

Menurut dia, narkoba sudah menjadi penjajah baru yang mengancam kedaulatan bangsa dan negara. Maka, pemberantasan narkoba juga perlu kesigapan semua pihak untuk memeranginya.

“Sudah bukan waktunya lagi berdiam diri menyaksikan anak-anak bangsa tenggelam dalam jeratan narkoba. Saya tegaskan, DPR terus berjihad memerangi narkoba dan diharapkan juga masyarakat turut ikut andil didalamnya,” jelas dia.

Sementara Anggota Komisi III DPR, Ahmad Sahroni menilai lambatnya proses eksekusi mati tidak memberikan efek jera terhadap para bandar maupun penyelundup narkoba ke Indonesia.

Karena menurut dia, masih ditemukannya terpidana yang divonis mati melakukan pengendalian operasi narkoba dari dalam penjara. Sehingga, penjara seolah hanya menjadi pos nyaman baru para jaringan narkoba.

“Dengan lambatnya eksekusi mati, terpidana dari jaringan narkoba yang sudah divonis mati seolah tidak khawatir,” kata Anggota Fraksi Partai NasDem ini.

Ia mencontohkan terpidana mati Togiman alias Toge alias Tony (60) yang begitu benas mengendalikan narkoba dari balik penjara, karena dua kali bandar narkoba ini divonis mati tapi belum juga dieksekusi.

“Pengungkapan 110 kg sabu dan 18.300 butir ekstasi oleh BNN membuktikan jaringan peredaran narkotika di Aceh dan Medan ini dikendalikan oleh Toge, bahkan ia aktor utama yang memesannya dari luar negeri,” tandasnya. (inilah/ags/data1)