Polisi Kesulitan Ungkap Kematian Eks Wakapolda Sumut karena Tak Ada Jejak di TKP

Tim Labfor Mabes Polri saat olah TKP di TKP (Foto: Avirista/Okezone)
Iklan
agregasi
agregasi

 

MALANG – Kematian purnawirawan eks Wakapolda Sumatera Utara masih menyisakan tanda tanya besar bagi kepolisian dan publik. Pasalnya dengan melihat kondisi rumah duka dan kondisi korban dua dugaan menyeruak, yakni dibunuh atau bunuh diri.

Namun hingga hari ke-6, polisi masih tampak kesulitan mengungkap penyebab kematian korban, apakah karena dibunuh atau bunuh diri. Salah seorang perwira polisi yang terlibat penyelidikan mengungkapkan, proses penyelidikan melibatkan Labfor Mabes Polri karena keterbatasan peralatan yang dimiliki oleh pihak Polres Malang Kota dan Polda Jawa Timur.

“Mereka (Labfor Bareskrim Polri, red) punya alat yang lengkap. Kita tak punya alatnya, jadi semua diteliti, didik jari, jejak kaki, dan lainnya,” ujarnya kepada okezone, Kamis sore 1 Maret 2018.

Menurutnya, olah tempat kejadian perkara (TKP) yang kesekian kalinya ini guna meyakinkan kepolisian untuk membuktikan penyebab kematian korban. Beberapa bukti yang telah diamankan pun kembali dihadirkan oleh kepolisian guna mendukung olah TKP yang berlangsung mulai pukul 11.00 WIB hingga 16. 23 WIB.

iklan

Dirinya juga menyebut bila memang pembunuhan, pelaku melakukan aksinya sangat rapi karena tidak meninggalkan jejak apapun. Namun jika dikatakan bunuh diri, membutuhkan upaya pembuktian yang cukup kuat.

Pada olah TKP ini, polisi menemukan kerusakan pada akses keluar masuk rumah melalui pintu ruang tamu dan garasi. Jika melalui bagian belakang sangat kecil, karena di belakang rumah ketinggian tembok rumah korban mencapai 7 meter.

Sementara di lantai dua terdapat bekas tetesan darah dan goresan tubuh di dinding yang diduga milik korban. Hal ini sama dengan kapur yang menempel pada tubuh korban saat ditemukan tewas.

Di sisi lain, Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Ambuka Yudha menegaskan polisi belum bisa memastikan penyebab kematian Kombes Pol (Purn) Agus Samad, apakah dibunuh atau bunuh diri.

“Masih kita pastikan terus, masih fifty – fifty,” tegas Ambuka usai olah TKP.

Sebelumnya, warga Perumahan Bukit Dieng Permai dikejutkan penemuan jasad purnawirawan mantan Wakapolda Sumatera Utara yang tewas bersimpah darah dengan kondisi kali terikat tali rafia hitam di taman belakang rumahnya pada Sabtu pagi 24 Februari 2018.

Diduga ia menjadi korban pembunuhan karena ditemukan sejumlah bercak darah di ruang makan yang berjarak 10 meter dari penemuan jasad korban.

Polisi hingga kini sudah memeriksa sejumlah saksi dari istri, anak, saudara, dan kerabat korban. Pihak kepolisian juga telah memeriksa petugas keamanan, tetangga, dan saksi mata saat pertama kali menemukan korban tewas.

Iklan