Indonesia Marak Pembobolan ATM, Begini Ciri-Ciri Kejahatan Skimming

Ilustrasi: Foto Shutterstock
Iklan
agregasi
agregasi

 

JAKARTA – Baru-baru ini, perbankan di Indonesia marak terjadi kasus skimming atau pembobolan ATM pada sejumlah bank. Kurangnya tingkat pengawasan di setiap ATM tentu memengaruhi kasus pembobolan tersebut.

Ekonom dari Center of Reform on Economic Piter Abdullah mengatakan, skimming itu adalah pencurian data dari ATM yang dapat membuat data nasabah akan terbaca oleh skimmer (penjahat yang melakukan skimming) dan terjadinya penggandaan kartu ATM.

“Kalau skimmer (pencurinya) akan meletakkan alatnya itu di pintu slot kartu, jadi dia memasukkan alat ke dalam slot in atau tempat memasukkan kartu jadi datanya juga terbaca oleh skimmer,” katanya kepada Okezone, Selasa (20/3/2018).

Skimmer akan melakukan aksi kejahatan khususnya akan terjadi pada bank-bank besar yang memiliki banyak ATM. Tentunya dengan hal itu, skimmer tidak bingung memilih ATM mana yang akan jadi sasarannya.

iklan

Piter juga mengatakan, kasus skimming ini, terjadi juga di luar negeri tetapi lebih banyak atau kasus yang paling besar yaitu terjadi di Indonesia.

“Di luar negeri kan walaupun Indonesia masuk yang paling tinggi dari 5.500 kasus di dunia, Indonesia sepertiganya sekitar 1.500 terjadi di Indonesia berarti Indonesia paling tidak aman,” ungkapnya.

Kasus seperti, menurutnya, perlu adanya penanganan lebih lanjut dari pihak perbankan untuk sering-sering melakukan pengecekan secara berkala agar tidak bertambah tinggi kasus seperti ini.

Dia juga menegaskan, agar nasabah tidak terlalu khawatir tetapi juga perlu waspada saat ingin menggunakan ATM. Nasabah juga dituntut untuk tidak lengah dan percaya begitu saja terutama pada kasus seperti ini.

“Pertama ditingkatkan kewaspadaan ya harus cek dan re-cek, kira-kira ini palsu enggak, terutama pada slot pemasukan kartu, yang kedua ada di keyboard-nya. Kalau keyboard-nya bisa dicopot ya memang itu palsu. kalau dia palsu pasti bisa dicopot, kalau yang asli dia melekat di mesin ATM-nya,” ujar Piter.

Selain itu, jika ada nasabah yang sudah terkena aksi kejahatan seperti itu, lalu mengubah pin dan sebagainya tetapi tetap kebobolan juga, hal itu juga tidak perlu dikawatirkan, karena perbankan pasti akan melakukan pengkajian lebih lanjut.

“Selama kita hati-hati sebenarnya risiko untuk kebobolan itu kecil, kita semuakan punya rekening, jadi kecil sekali kebobolan itu terjadi,” tutupnya.

Iklan