Tragedi Kemanusiaan Etnis Rohingya, Jangan Sampai Akar Masalah ‘Diimpor’ ke Indonesia

Ilustrasi (dok. Antara)
Iklan
agregasi
agregasi

 

JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI Andreas Hugo Pareira meminta inti persoalan konflik kemanusian yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar tidak dibawa ke dalam negeri, apalagi sampai turut memicu adanya konflik serupa di Indonesia.

“Kita harus menjaga dengan benar bahwa persoalan Rohingya jangan sampai menjadi titik pemicu persoalan di negeri kita. Jadi kita tidak menghendaki mengimpor masalah ini ke dalam negeri. Ini yang harus kita jaga,” ujar Andreas di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (4/9/20l7).

Menurut Andreas persoalan Rohingya sejatinya merupakan masalah dalam negeri Myanmar, namun memiliki dimensi internasional yang kuat lantaran menyangkut masalah kemanusiaan.

“Persoalan Rohingya itu persoalan kemanusiaan yang bukan hanya masalah satu agama,” tuturnya.

iklan

Berangkatnya Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi ke Myanmar, diharapkan bisa memberikan penjelasan yang sebenarnya terkait konflik kemanusiaan yang terjadi di sana.

“Kami berharap dengan kunjungan Menlu bisa memberikan penjelasan yang akurat pada kita maupun pada dunia luar,” harapnya.

Diketahui selama empat tahun terakhir, etnis Rohingya yang tinggal di perbatasan Myanmar dan Bangladesh yaitu tepatnya di Rakhine State hidup dalam mimpi buruk. Mereka terjebak dalam konflik kemanusiaan yang mengancam jiwa. Banyak versi yang menunjukkan asal mula dari konflik itu terjadi. Namun yang pasti, berbagai perlakuan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) telah mereka dapatkan sejak 2012.

Rohingya merupakan kelompok etnis di Myanmar yang dinyatakan tidak memiliki kewarganegaraan. Rakhine State sendiri menjadi rumah bagi lebih dari satu juta orang Rohingya yang mayoritasnya adalah Muslim. Oleh karena itu, Rohingya diklaim sebagai salah satu populasi tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia. Namun di Myanmar, Muslim Rohingya merupakan minoritas, mengingat kebanyakan penduduk Myanmar memeluk agama Budha atau Hindu.

Iklan