55 Kali Terjadi Kecelakaan di Pintu Perlintasan KAI Selama 7 Bulan

WOL Photo/Eko kurniawan

MEDAN, WOL – Penyebab terjadinya kecelakaan di palang pintu perlintasan dan di jalur Kereta Api Indonesia (KAI), disebabkan pengguna jalan masih tidak disiplin saat melintas.

Diantaranya dengan membuka perlintasan liar atau tidak resmi, melanggar pintu yang sudah tertutup atau kurang hati-hati, melanggar atau tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Pengendara tidak tengok kanan-kiri serta adanya hewan ternak peliharaan yang tidak dijaga oleh pemiliknya.

“Dari data mulai bulan Januari 2017 hingga sampai saat ini di bulan Juli 2017, sudah terjadi 55 kali kejadian kecelakaan di pintu perlintasan resmi dan perlintasan tidak resmi maupun di ruang manfaat jalur KAI,” tutur Manager Humas PT KAI (Persero) Divre I SU, Ilud Siregar, kepada Waspada Online, Sabtu (22/7).

KAI sangat mengimbau, bahwa perlunya peran serta masyarakat terhadap keselamatan perjalanan KAI menjadi hal yang sangat penting.

“Patuh dan menjaga ketertiban, keamanan perjalanan KAI antara lain, mentaati aturan-aturan dan norma yang berlaku serta patuh terhadap rambu-rambu yang ada di perlintasan sebidang dengan jalur KAI. Tidak mendirikan bangunan di daerah jalur KAI, tidak menempatkan atau menaruh barang berbahaya di daerah jalur KAI, serta tidak berada di ruang manfaat jalur KAI,” tuturnya.

Advertisement

Ilud menambahkan perlu diketahui bahwa di dalam Undang Undang No. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian menyatakan, perpotongan antara jalur KA dan jalan dibuat tidak sebidang (bisa dibuat fly over atau underpass), pembangunan Jalan, jalur kereta api khusus, terusan, saluran air dan/atau prasarana lain yang memerlukan persambungan dan perpotongan dan/atau persinggungan dengan jalur kereta api umum harus dilaksanakan untuk kepentingan umum dan tidak membahayakan perjalanan KA.

“Pembangunan perpotongan sebidang wajib mendapat izin dari pemilik prasarana perkeretaapian. Untuk keselamatan perjalanan KA dan pemakai jalan. Sesuai kewenangannya melakukan evaluasi secara berkala terhadap perpotongan sebidang dan berdasarkan hasil evaluasi tersebut, pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya dapat menutup perpotongan sebidang dimaksud,” ujarnya.

Ditambahkan, dalam Pasal 38 Undang Undang 23 Tahun 2007, menyatakan ruang memanfaatkan jalur KAI diperuntukkan bagi pengoperasian kereta api, dan merupakan daerah yang tertutup untuk umum.(wol/eko)

Editor: SASTROY BANGUN