Pengelola Komplek MMTC Diduga Aniaya Warga

WOL Photo

MEDAN, WOL – Pengelola Komplek Medan Mega Trade Centre (MMTC) Jalan Williem Iakandar, Desa Medan Estate, Percut Seituan, Deliserdang, diduga melakukan penganiayaan terhadap warga.

Pasalnya, Hendri (38) warga Komplek MMTC mengaku dianiaya preman diduga orang suruhan manajemen Komplek MMTC saat demo menolak pengutipan uang parkir, Selasa (2/5).

“Saat aku menyampaikan keberatan adanya kutipan parkir di Komplek MMTC tiba-tiba ada dua orang memukuli kepalaku. Diduga kalau mereka orang suruhan dari pengelola komplek,” ungkapnya saat ditemui Waspada Online.

Usai memukuli dirinya, kedua pelakupun melarikan diri. Dan sudah menghilang saat akan dikejar. “Sempat kami bersama warga mengejar kedua pelaku. Namun mereka berhasil melarikan diri,” sebutnya.

Hendri mengungkapkan tak terima dengan perbuatan kedua OTK itu, didampingi bersama warga lainnya, dirinya pun membuat laporan ke Polsek Percut Seituan.

Advertisement

“Laporan saya tidak diterima, makanya saya kembali lagi ke Komplek MMTC,” ungkapnya.

Sementara itu, Pgs Kapolsek Percut Seituan, Kompol Harry Azhar, ketika dikonfirmasi terkait penganiayaan yang dilakukan preman bayaran terhadap seorang warga, namun laporan warga tidak diterima. Kapolsek menegaskan supaya korban diarahkan untuk membuat laporan kembali.

“Jika memang korban terbukti dianiaya, kita akan tindak tegas pelakunya, siapapun itu orangnya. Bilang sama korbannya lagi untuk membuat laporan,” terangnya.

Diketahui, dipicu diberlakukannya pakir lingkungan (Parling) di Komplek Medan Mega Trade Centre (MMTC), seratusan warga menggelar aksi demo di komplek guna menolak kebijakan yang dilakukan pihak pengembang.

Dalam orasinya, warga mengungkapkan sebelumnya pada 3 April 2017 lalu menerima undangan sosialisasi, dari PT PBC. Dimana dalam surat tersebut berisikan bahwa pemilik rumah toko (ruko) di Komplek MMTC untuk berkenan hadir dalam rangka sosialisasi Parling yang akan. Untuk biaya operasional Parling dikenakan iuran lingkungan yang awalnya Rp150 ribu menjadi Rp300 ribu tiap bulannya.

Serta akan diberi kompensasi, dimana pengelola akan memberikan 2 lembar free pass masuk kepada penghuni bangunan akan diberlakukan Parling dikenakan Rp100 ribu tiap bulannya untuk mobil. Sedangkan untuk sepeda motor Rp50 ribu tiap bulannya. Warga nantinya akan diberi.

Selanjutnya warga yang merasa keberatan dengan kebijakan sepihak pengembang itu akhirnya melakukan penandatanganan disertai foto copy KTP, dan tembusan langsung ke Mitrapol Mitra Mabes Polri, Korwil Sumut, Bupati Deliserdang, DPRD Deliserdang, Kapolrestabes Medan, Kapolsek Percut Sei Tuan, Camat Percut Sei Tuan dan PT PBC. Hal itu dilakukan karena warga sudah merasa tertipu dengan ini, sebab warga sudah tak nyaman tinggal di komplek.(wol/lvz/data1)

Editor: SASTROY BANGUN