Hutan Gundul Penyebab Waduk Kreuto Tak Mampu Cegah Banjir

Kabid Pengairan Dinas PUPR Kabupaten Aceh Utara, Asnawi. (WOL Photo/Chairul Sya'ban)
Iklan

LHOKSUKON,WOL – Banjir masih saja terjadi, bahkan hingga kemarin melanda sejumlah desa di tiga kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara. Tidak mengenal waktu, banjir bisa saja kapan terjadi pasca pegunungan diguyur hujan lebat meskipun di daerah yang dilanda banjir tidak diuguyur hujan.

Masyarakat Aceh Utara sangat mengharapkan pembangunan waduk kreuto yang terletak di Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara segera diselesaikan karena dipastikan mampu mencegah terjadinya banjir. Apalagi waduk tersebut merupakan waduk terbesar dari 13 bendungan yang ada di Indonesia.

Pada Maret 2015 lalu, Presiden RI Jokowi bersama Ibu Negara dan Menteri PUPR RI, Basoeki Hadimoeldjono telah melakukan peletakan batu pertama di lokasi waduk tersebut sebagai tanda dimulainya pembangunan waduk.

Pemerintah menargetkan waduk terbesar yang satu ini mampu menyediakan tampungan khusus banjir sebesar 30,50 juta M3 dan mampu meredam serta mereduksi debit banjir sampai dengan periode ulang 50 tahun. Namun, baru setengah yang dikerjakan tapi masih ada titik-titik rawan yang dilanda banjir.

Menurut Kepala Bidang Pengairan Dinas PUPR Kabupaten Aceh Utara, Asnawi, waduk yang dimaksud bukanlah untuk mencegah terjadinya banjir, akan tetapi hanya mampu mengurangi terjadinya banjir. Misalnya, pemukiman penduduk yang biasanya dilanda banjir dengan ketinggian hingga satu meter bisa berkurang menjadi 50 centimeter jika waduk sudah selesai.

iklan

“Dampak banjir akan tetap terjadi, waduk Kreuto hanya mengurangi debit banjir saja dan bukan untuk mencegah. Bukan karena ada waduk maka tidak banjir lagi, waduk hanya mengurangi debit banjir saja. Maka tidak pengaruh dari waduk itu,” ujar Asnawi kepada Waspada Online, Jumat (14/4).

Menurutnya ada beberapa anak sungai dari lokasi Waduk Kreuto, diantaranya Krueng Pirak, Krueng Kreh, dan Kreuto. Ia bahkan menjelaskan bahwa waduk Kreuto hanya berfungsi sebagai mengaliri air ke saluran irigasi, mengurangi debit banjir, dan listrik. Bahkan menurutnya lagi, yang mampu mencegah banjir adalah hutan dikembalikan, bukan waduk.

“Tidak pengaruh adanya Waduk Kreuto, bukan untuk mencegah tapi hanya mengurangi. Satu-satunya yang mampu mencegah banjir adalah hutan dikembalikan, hutan jangan gundul. Banjir ini sebenarnya faktor alam, kalau hutannya dikembalikan maka pasti banjir jarang terjadi,” terang Asnawi.

Sebagaimana diketahui, pengerjaan pembangunan waduk Kreuto dilaksanakan dengan Multi Years Contract dari tahun 2015 hingga 2019 dengan menelan anggaran senilai Rp 1,7 triliun. Secara geografis, lokasi waduk Kreuto dan bangunan fasilitasnya terletak di Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong.

Sedangkan rencana genangan terletak di Desa Blang Pante, Desa Plue Pakam dan Desa Makarti yang termasuk dalam Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara. Juga berfungsi untuk penyediaan air irigasi (9.420 ha), air baku (5001/det), PLTA (6,34 MW) serta manfaat ikutan lainnya yang bisa meningkatkan perekonomian di Aceh Utara dan Bener Meriah.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan