Sekda Lepas Napak Tilas Hari Pahlawan

WOL Photo
Iklan

MEDAN, WOL – Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu) Hasban Ritonga, melepas keberangkatan napak tilas dalam  rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November Provinsi Sumatea Utara, Sabtu (12/11) sore di halaman Kantor Gubsu, Medan.

Menjalani rute sepanjang 21 km, sebanyak 600 peserta napak tilas berjalan kaki pada malam hari mengikuti rute perjuangan Datuk Sunggal saat melawan penjajah.

Kegiatan napak tilas memperingati Hari Pahlawan tersebut diikuti oleh 600 peserta terdiri dari unsur organisasi kepemudaan, instansi pemerintah, TNI, POLRI, BUMN/BUMD, pencinta alam, organisasi sosial, karang taruna, pramuka dan pelajar. Peserta menempuh rute perjuangan Datuk Badiuzzaman Sri Indera  Pahlawan Surbakti atau akrab dengan sebutan Datuk Sunggal. Memulai start dari halaman Mesjid Raya Datuk Badiuzzaman yang letaknya persis di samping Kantor PDAM Tirtanadi Sunggal. Peserta menempuh rute 21 km hingga finish di Halaman Polres  Binjai di Jalan Sultan Hasanuddin Binjai.

“Pelaksanaan kegiatan napak tilas ini bertujuan memberikan penghargaan kepada para pejuang bangsa  yang telah mengorbankan segala-gala demi kemerdekaan bangsa Indonesia,” ujar  Sekda membacakan pidato Gubernur Sumatera Utara. Kegiatan Napaktilas , ujarnya, juga mengandung makna yang dalam  karena memiliki nuansah kebersamaan, patriotism,wawasan kebangsaan, serta dilandasi dengan semangat juang.  Nilai itu yang harus dipegang erat, dihayati dan diamalkan oleh segenap komponen bangsa.

Setelah dilepas di halaman Kantor Gubsu Jalan Diponegoro, peserta diberangkatkan menuju lokasi  titik awal start Napak Tilas di Halaman Mesjid Datuk Badiuzzaman Sunggal. Sebelum melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, digelar berbagai kegiatan  seperti sarasehan, pelombaan lagu-lagu perjuangan dan puisi [erjuangan. Kegiatan tersebut untuk menumbuhkan dan mengobarkan  semangat perjuangan dan sportifitas.

iklan

Sekda pada kesempatan itu berpesan agar peserta napak tilas menjaga kekompakan dan kebersamaan serta  menguatamakan ketertiban dan keamanan.

Datuk Badaiuzzaman adalah Raja Sunggal yang memimpin Perang Sunggal hingga 25 tahun sejak tahun 1872  yang tercatat sebagai salah satu perang terlama dalam perjuangan melawan penjajah di tanah air. Perang ini adalah perjuangan rakyat Sunggal dalam mempertahankan tanah tumpah darahnya dari penguasaan tangan penjajahan Belanda. Wilayah Sunggal (Serbanyaman) yang sangat subur ketika itu ingin dikuasai oleh perusahaan perkebunan Belanda untuk ditanami tembakau. Penguasaan itu tanpa seizin raja dan rakyat Sunggal sehingga timbullah peperangan. Perang ini merupakan salah satu perang yang terbesar sehingga pemerintah Hindia.

Belanda harus mengeluarkan ‘Medali Khusus’ untuk menghargai para pemimpin perang ini dari pihak mereka. Hal itu diketahui dari catatan yang terdapat di Museum KNIL, Bronbeek (Belanda).
(wol/rdn/data1)

Iklan