Puteh: Revolusi Pertanian Alat Berantas Kemiskinan

WOL Photo

BANDA ACEH, WOL – Sektor pertanian masih dipandang sebelah mata dan kebijakan pun tidak berpihak kepada petani, sehingga mereka selalu tidak berdaya dari segi ekonomi. Padahal, mayoritas rakyat tidak kecuali di Aceh yang jumlahnya sekira 70 persen menggantungkan hidup dari pertanian.

Dari realita itu, Dr Ir Abdullah Puteh MSi yang juga calon Gubernur Aceh dari jalur perseorangan berupaya keras mengangkat harkat dan martabat petani. Puteh komit akan mengubah sistem pertanian di Aceh, agar hasilnya dapat dinikmati dalam jangka panjang.

“Dengan cara merevolusi pertanian akan bisa melenyapkan kemiskinan,” kata Puteh baru-baru ini seraya menilai penghasilan sektor pertanian tidak cukup memenuhi kebutuhan petani.

Meskipun dalam satu tahun bisa menghasilkan belasan hingga puluhan juta rupiah sekali panen, Puteh mencontohkan rata-rata petani bisa menghasilkan Rp18 juta setahun dengan asumsi masing-masing petani memiliki satu hektar lahan. Hasil itu belum dipotong biaya proses semasa produksi. Diperkirakan satu tahun, petani berpenghasilan Rp700 ribu per bulannya.

Penghasilan ini bila dikaitkan dengan gaji Upah Minimum Provinsi (UMP), keuntungan per bulan petani masih jauh di bawah UMP Aceh. Wajar saja, kehidupan petani di Aceh masih sangat memprihatinkan. Untuk itu, Puteh yang berpasangan dengan Said Mustafa Usab menempatkan  pengembangkan sektor pertanian sebagai prioritas utama.

Advertisement

“Program prioritas kita tidak muluk-muluk, saya hanya ingin mengembangkan sektor pertanian,” ujar Puteh yang mengaku terpanggil kembali memimpin Aceh untuk  mengubah kehidupan ekonomi masyarakat lebih baik.

Puteh mengaku maju sebagi calon gubernur tidak untuk memperkaya diri. Karena itu, Puteh tidak akan mengambila gajinya bila terpilih sebagai Gubernur Aceh. Sebaliknya, mantan Aceh-1 ini akan menyedekahkan gajinya kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Melihat pertanian saat ini, kata Puteh, masih banyaknya petani yang belum menggunakan bibit unggul. Selain itu, Puteh juga prihatin anggaran sektor pertanian sangat minim, yaitu tiga persen. Karenya, alokasi dana pertanian akan diberikan sebanyak 20 persen dari dana yang dimiliki Aceh jika terpilih nanti.

Sebagai negara agraris, khususnya Aceh yang mayoritas 70 persen penduduknya sebagai petani, Puteh ingin pertanian menjadi alat memberantas kemiskinan di Bumi Serambi Mekkah. Itu sebabnya, Puteh berani mengalokasikan dana untuk pertanian sebanyak 20 persen.

Alokasi itu nanti, katanya, akan dipersiapkan untuk lahan sekira 300 ribu hektar yang masih bisa digarap di seluruh Aceh. Tidak tanggung-tanggung, revolusi pertanian ala Puteh akan dimulai dari sistem pertanian hingga pendukungnya, seperti irigasi ramah lingkungan dengan teknologi sinar surya satu alat pompa air bisa mengaliri beberapa hektar.

Di samping itu, agar petani punya daya tawar, Puteh akan berjuang lahan pertanian milik petani disertai sertifikat kepemilikan sehingga bisa menjadi agunan sebagai modal usaha. Guna mendukung semua itu, tentunya dibutuhkan perubahan pada birokrasi pemerintahan.

“Pegawai negeri itu di samping melayani dia juga diharuskan menjadi pendamping masyarakat,” tutup alumnus ITB tersebut.(wol/aa/data2)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL