Angka Kekerasan Terhadap Perempuan di Aceh Meningkat

WOL Photo/chairul sya'ban

PIDIE, WOL – Angka kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya meningkat, dan kondisinya ibarat fenomena gunung es. Data yang terlihat hanya sedikit, sementara kasus lainnya yang lebih banyak tidak terlihat di permukaan dan sulit terdata.

Hal itu disampaikan Koordinator Aksi Lsm Flower Aceh, Ernawati, dalam aksi kampanye memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) ke 16 yang diikuti sejumlah Lembaga di Kota Sigli, Pidie, Selasa (29/11).

Diterangkan, Gerakan Perempuan Aceh selama tahun 2011- 2013 mencatat sebanyak 706 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di Aceh. Kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat pada sepanjang bulan Januari sampai dengan Juni 2015. Sejak Januari 2016, kekerasan terhadap perempuan tercatat 49 kasus.

“Bentuk-bentuk kekerasan yang dialami perempuan beragam, mulai dari pelecehan seksual, penelantaran, KDRT dan jambret serta bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Kondisi tersebut masih terjadi di Aceh meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Aceh,” terangnya.

Upaya Pemerintah Aceh yang dimaksud kata dia, diantaranya dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan seperti UUPA No.11 Tahun 2006, Qanun Aceh No.6 Tahun 2009 tentang Perlindungan Perempuan, dan Qanun Aceh No.11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak.

Advertisement

Sementara itu dari sisi kesehatan, angka kematian ibu (AKI) juga termasuk tinggi di Aceh. Hal ini menurut dia dipertegas dengan hasil penelitian kualitatif Flower Aceh yang menemukan beberapa permasalahan terkait dengan kesehatan reproduksi perempuan yaitu berlangsungnya pernikahan perempuan pada usia dini dibawah 20 tahun.

Berdasarkan kondisi tersebut, dalam rangka memperingati HAKTP hari ke 16 tahun 2016, Flower Aceh akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan secara serentak di Banda Aceh dan Pidie yang akan melibatkan para pengambil kebijakan, tokoh strategis, elemen sipil, dan kelompok perempuan komunitas perempuan di masing-masing Aceh dan Permapu wilayah.

“Pelaksanaan kegiatan menjadi bagian dari aksi kolektif gerakan di Pulau Sumatera. Tujuan Peringatan HAKTP ini bertujuan untuk mengkampanyekan hak-hak perempuan sebagai bagian dari hak asasi manusia yang berhak untuk mendapatkan kehidupan yang damai di Aceh,” tukasnya.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN