Illegal Logging Marak di Aceh Timur

Istimewa
Iklan

PEUDAWA, WOL – Gara-gara aksi illegal logging yang semakin marak di sejumlah titik dalam Kabupaten Aceh Timur, kilang kayu mendapat peringatan keras dari jajaran kepolisian. Bahkan, petugas akan menindak kilang kayu yang beroperasi tanpa izin resmi.

“Kita sudah minta kapolsek mendata ulang legalitas seluruh kilang kayu yang beroperasi di kecamatannya masing-masing, karena selama ini sangat banyak kilang kayu yang beroperasi selama ini di wilayah Aceh Timur,” kata Kapolres Aceh Timur, AKBP Rudi Purwiyanto SIK, MHum, Selasa (11/10).

Dijelaskan, setiap kilang kayu yang tidak memiliki legalitas operasional akan diberi waktu mengurus izin operasionalnya selama sebulan terhitung 11 Oktober-10 November 2016.

“Jika peringatan ini tidak diindahkan, maka terhitung 11 November mendatang kita akan lakukan penindakan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Dalam penindakan ini kita tidak akan tebang pilih, semuanya sama,” sebut Rudi.

Kapolres Aceh Timur berpendapat, selama ini luas hutan di Aceh Timur, terus berkurang akibat perambahan dan penebangan yang kian merajalela. Gundulnya hutan membuat masyarakat resah, karena dikhawatirkan terjadi bencana alam seperti banjir bandang dan longsor.

iklan

Selain itu, penebangan hutan juga akan bertambah panjang konflik gajah dengan manusia sebagaimana terjadi di Kecamatan Ranto Peureulak, Peunarun, Pante Bidari, dan Indra Makmur.

“Untuk mengubah pola hidup masyarakat di sekitar hutan yang menjadi kayu hutan sebagai mata pencaharian diakui tidak mudah, tapi dengan langkah penertiban seperti ini kita nilai akan mengarahkan masyarakat menjaga dan melestarikan hutan,” kata Rudi.

Karena itu, Kapolres Aceh Timur berinisiatif melakukan penertiban terhadap kilang kayu ilegal yang beroperasi di wilayah hukum. Paling tidak akan meminimalisir penampungan kayu di sekitar hutan.

“Kilang kayu ilegal biasanya menampung kayu-kayu hasil tebangan liar. Jadi, penertiban ini kita mulai dari kilang kayu hingga penertiban terhadap aksi pembalakan liar dengan alasan apapun,” kata Rudi.

“Wilayah kita ini dikenal kaya dengan flora dan fauna. Oleh karenanya menjaga hutan juga bagian dari menyelamatkan kekayaan alam hayati lainnya di Aceh Timur yang memiliki Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sebagai paru-paru dunia,” ujar AKBP Rudi.(wol/aa/wsp/data2)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL

Iklan