Harus Ada Kajian Komprehensif Terkait Matinya Ribuan Ton Ikan Danau Toba

WOL Photo/Ega Ibra
Iklan

MEDAN, WOL – Komisi VII DPR-RI yang membidangi energi dan lingkungan hidup merespon terkait matinya ribuan ton ikan keramba jaring apung di kawasan Haranggaol, Danau Toba.

“Kita minta pemerintah pusat dan daerah turun tangan segera melakukan kajian komprehensif untuk meneliti terkait matinya ribuan ton ikan di Danau Toba,” kata Gus Irawan pasaribu, ketua Komisi VII DPR-RI di Bandara Kualanamu Medan sebelum bertolak ke daerah pemilihannya di Tapsel, Senin (9/5).

Dia mengatakan Komisi VII menginginkan laporan komperehensif nantinya dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai mitra kerja komisi tersebut. “Sebab menurut saya ini merupakan kejadian berulang. Saya ingat dulu waktu Tengku Rizal Nurdin (alm) jadi Gubsu kejadian seperti ini pernah terulang. Sekira tahun 2004 ya. Ribuan ikan juga mati,” katanya.

Menurut Gus, pengalaman lalu harusnya sudah membuat semua pihak yang berada di kawasan Danau Toba belajar. “Yang pasti itu sudah merugikan petambak ikan dan kalau disinyalir ada pencemaran lingkungan itu lebih berbahaya lagi,” tuturnya.

Pemerintah, menurut dia, harus melakukan kajian detil terkait masalah ini agar jangan terulang lagi. “Apakah ini ada keterkaitan dengan isu lingkungan. Sebab secara kasat mata saja kalau kita lihat di sana keramba ikan itu begitu padat.”

iklan

Matinya ribuan ton ikan di Danau Toba ini juga sebagai warning pengelolaan kawasan wisata itu ke depan, jelasnya. “Perlu dibuat juga aturan yang tegas tentang bagaimana masyarakat memanfaatkan Danau Toba. Tentu jangan ada pencemaran lingkungan. Harusnya ada standar yang mendukung kelangsungan hayati di kawasan tersebut.”

Gus yang dalam reses kali ini akan mengunjungi beberapa kawasan di Tapanuli, mengharapkan segera ada hasil kajian dari pemerintah. “Tentukan penyebabnya apa. Baru bisa kita dapatkan solusi ideal.”

Indikasi awal yang berkembang, menurut Gus, karena ikan di sana kekurangan oksigen. “Apakah sesederhana itu? Kemudian kenapa massif sekali. Ya setidaknya ini juga teguran untuk kita semua agar jangan ada pencemaran lingkungan di Danau Toba.”

Semua harus mendapatkan solusi tuntas, jelas Gus. “Saya belum bisa pastikan apakah ada pencemaran lingkungan atau tidak sebelum dapat hasil kajiannya. Namun dalam batasan-batasan tertentu harus dilihat juga tentang efek sosial masyarakat sekitar.”

Sebab, kata dia, masyarakat di kawasan Danau Toba banyak yang mengembangkan keramba ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. “Jika kemudian keramba ikan dilarang, bagaimana mereka hidup. Tidak ada salahnya juga mereka manfaatkan sebagian Danau Toba untuk sumber penghidupan. Tapi syaratnya tidak ada pencemaran lingkungan.”

Kecuali kalau kemudian masyarakat dilarang mendapatkan memanfaatkan Danau Toba untuk keramba ikan dengan mencari tempat lain yang menopang sumber penghasilan buat mereka, tegasnya.

Apakah dengan matinya ribuan ton ikan ini merupakan kelalaian pemerintah daerah? “Ya saya belum bisa simpulkan seperti ini. Tentu sekali lagi ini perlu penyelidikan mendalam. Kalau kita lihat memang banyak sekali keramba di kawasan itu.”

“Dan satu hal kenapa tidak belajar dari kejadian tahun 2004 atau 2005 lalu saat ribuan ikan ekor juga mati. Memang seharusnya pemerintah daerah melakukan pengawasan melekat dengan periode tertentu untuk mengukur tingkat pencemaran lingkungan di areal tersebut,” tuturnya.(wol/ags/min/data1)

Iklan