Teknologi Aplikasi Bermanfaat Bagi Kreativitas Anak Medan

Diskusi ringan antara media massa berbasis teknologi, Kibar, dan komunitas Medan di Pilastro Cafe Medan, Sabtu (23/4). WOL Photo/M Rizki

MEDAN, WOL – Generasi muda harus kreatif, inovatif, dan mampu memanfaatkan teknologi dalam menampilkan hasil karyanya. Setidaknya hal itulah yang harus diwujudkan oleh anak Medan, jika tidak ingin tertinggal dari generasi muda dari kota lainnya.

Dalam diskusi ringan gagasan Kibar di Pilastro Cafe Medan, Jalan Bukit Barisan, Sabtu (23/4) , perusahaan berbasis teknologi ini mengajak anak muda Medan yang tergabung dalam komunitas atau individu menunjukkan talenta yang mereka miliki dengan memanfaatkan teknologi informasi yang tersebar di dunia maya.

Namun sebelum itu terwujud, hal yang perlu dilakukan adalah membangun inkubatornya terlebih dahulu. Sehingga ke depannya wadah ini dapat menjaring seluruh informasi seputar kreativitas anak muda Medan yang dapat disebarluaskan ke seluruh penjuru tanah air.

“Kami ingin anak muda Medan berkarya. Untuk mewujudkan hal itu, harus sering berkumpul dalam bentuk komunitas, sehingga ekosistemnya terbentuk. Setelah terbentuk, baru kita buat kegiatan yang sifatnya mempromosikan apa yang dihasilkan anak muda Medan,” ungkap CEO Kibar, Yansen Kamto, menambahkan kota besar lainnya sudah memanfaatkan teknologi dalam menunjuang hasil karyanya.

Yansen menambahkan, usai membentuk komunitas, selanjutnya akan dibuat pula pelatihan pemanfaatan android kepada komunitas tersebut. Harapannya, dengan ada teknologi ini mampu menciptakan profesionalitas di antara generasi muda Medan.

Advertisement

“Kita juga sudah menjalin kerjasama dengan provider selular. Dan kita akan membuat prototype program-program berbasis teknologi. Di samping itu, akan melibatkan Women Participate Technology,” sambungnya.

Salah seorang peserta diskusi yang bergelut di bidang event organizer mengaku anak muda Medan cenderung bangga ketika memahami sedikit ilmu pengetahuan. Alhasil mereka enggan mencoba mendalami suatu hal, terlebih lagi yang baru di mata mereka.

“Rasa mindernya juga lebih tinggi ketika ketemu dengan seseorang yang memiliki pengetahuan lebih dari mereka. Itulah kondisi sebenarnya di Kota Medan,” ujar peserta tersebut yang enggan namanya disebut. (wol/mrz/data1)