Tim Transisi Lebur Klub ISL-Divisi Utama

Antara

JAKARTA, WOL – Upaya Tim Transisi menggulirkan kompetisi tampaknya segera terwujud. Jumat (11/3) kemarin, tim bentukan Kemenpora itu mengumpulkan klub-klub Indonesian Super League (ISL) dan Divisi Utama untuk membicarakan Liga Indonesia.

Dari 18 klub ISL yang diundang, hanya Semen Padang yang datang bersama 39 klub Divisi Utama (DU). Padahal, ada 59 klub Divisi Utama yang diundang. Perwakilan tim-tim asal Jateng-DIY yang bersedia hadir antara lain Direktur KP PSIS Semarang Wisnu Adi Yoga dan Bendahara Persibat Batang Musta’in.

Ada pula Manajer PPSM Sakti Magelang Salafudin, Direktur Teknik PSIR Rembang Hariyanto, Wakil Ketua Umum Persibas Banyumas Danan Setianto, Manajer Persiba Bantul Endro Sulastomo, dan Manajer PSS Sleman Rumadi. Sesuai janji Tim Transisi, klub ISL dan DU akan dilebur menjadi satu pada Liga Indonesia, Agustus mendatang.

Anggota Tim Transisi, Cheppy Wartono, mengemukakan Liga Indonesia diputar untuk menentukan klub terbaik mengisi kasta tertinggi di Tanah Air mulai musim depan. Dari puluhan klub yang ambil bagian, hanya 14-16 klub menghuni kasta tertinggi mulai musim depan dan sisanya menjadi tim kasta kedua.

“Sekarang sudah dibuka pendaftaran dan akan berakhir pada Mei mendatang. Setelah itu ada verifikasi pada Juni-Juli. Kemudian kompetisi mulai digelar pada Agustus. Lamanya kompetisi sekira delapan bulan dan nanti akan dibagi dua wiayah, Barat dan Timur,” bebernya.

Advertisement

Ditambahkan, klub yang bisa mengikuti kompetisi harus memenuhi syarat yang ditetapkan, yaitu memiliki akta pendirian klub (PT), NPWP, bukti pembayaran pajak, jaminan kesehatan untuk pemain dan memiliki izin kerja dari Imigrasi khusus untuk pemain asing.

Selain itu, klub-klub juga harus mengantongi lima aspek seperti yang ditetapkan AFC/FIFA, yaitu legal, infrastruktur, sporting, SDM, dan finansial. Dua perwakilan klub asal Sumut, yakni PSMS Medan dan Kwarta Medan, terlihat hadir bersama Semen Padang, PS Bengkulu, PSSB Bireuen, dan Lampung FC.(wol/aa/waspada/data1)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL