Pelambatan Ekonomi, Bisnis Properti Melambat

MEDAN, WOL – Ditengah pelambatan ekonomi dan penurunan daya beli, bisnis property diperkirakan masih akan melambat.

Walaupun property menjadi kebutuhan pokok manusia khususnya tapak rumah, namun ditengah himpitan daya beli yang terus turun maka prioritas pemenuhan kebutuhan makan menjadi lebih utama. Rumah menjadi pilihan kedua setelah pemenuhan kebutuhan dasar terpenuhi.

“Memang pemerintah kita terus melakukan sejumlah upaya untuk mempermudah bisnis property khususnya rumah tinggal sederhana, namun saya tidak optimis pengembang berani melakukan investasi secara besar-besaran di sektor property tersebut. Mereka juga akan mempertimbangkan kemampuan masyarakat,” ujar Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin kepada Waspada Online, Kamis (11/2).

Sehingga apa yang dilakukan pemerintah saat ini hanya akan meminimalisir, namun tidak akan menolong atau bahkan menyelamatkan industri di sektor property tersebut. Daya serap pasar masih menjadi kendala utama dan belum akan terselesaikan di tahun ini. Kebutuhan akan rumah tinggal memang masih banyak, namun seberapa banyak masyarakat kita yang mampu untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.

“Mengacu kepada data perumahan di tahun 2015. Dibandingkan dengan awal tahun 2015, untuk rumah hunian tipe 21 ke bawah total penyaluran kreditnya menjelang akhir tahun 2015 hanya tumbuh 3%-an saja. Untuk tipe rumah 22 hingga 70 penyaluran kreditnya tumbuh 10%, dan tipe diatas 70 tumbuh negatif 2%. Bahkan terjadi penurunan yang sangat tajam dari konsumsi rumah apartemen tipe 21. Yang sempet tumbuh sekitar 80% di tahun 2014, melambat menjadi sekitar 12% di tahun 2015,” tuturnya.

Advertisement

Bandingkan dengan kondisi tahun 2014, dimana masing masing tipe tersebut mampu tumbuh 0.6%, 18%, dan 2.6%. Artinya dengan kondisi perekonomian yang lebih baik, rumah hunian tipe 22 hingga 70 mengalami pertumbuhan yang baik, demikian juga untuk tipe rumah diatas 70. Nah disaat daya beli menurun, tipe rumah menengah tersebut justru mengalami perlambatan.

“Hanya rumah tipe 21 kebawah yang mengalami kenaikan. Ini bisa menjadi asumsi awal bahwa terjadi pola penurunan konsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal. Di tahun 2016 ini meskipun ada sejumlah kebijakan yang mempermudah serta penurunan suku bunga. Saya melihat potensi pertumbuhannya tidak akan jauh berbeda dibandingakn dengan realisasi tahun 2015,”jelasnya.

Gunawan melanjutkan, Potensi kenaikan hanya terjadi di tipe 21 hingga 70. Namun untuk segmen menengah keatas saya pikir peminatnya akan berkurang. Karena rumah segmen menengah ketas tersebut bukan hanya dikonsumsi, namun kerap digunakan sebagai wahana untuk investasi.

“Jangan sampai konsumen segmen perumahan menengah keatas justrumasuk kesegmen tipe 70 kebawah. Jika itu terjadi maka ada peluang dimana spekulan mulai bergeser ke rumah menengah ke bawah. Karena segemen tersbeut sangat diberikan kemudahan saat ini. Sebaiknya dipastikan rumah subsidi itu dibeli oleh pemebli pertama untuk menghindari potensi terjadi bubble pada sektor property,” pungkasnya. (wol/eko/data1)