Ombudsman Minta RS Adam Malik Perbaiki Sistem Pelayanan Publik

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara, Abyadi Siregar (WOL Photo)

MEDAN, WOL – Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara meminta manajemen Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik memperbaiki sistem pelayanan publik di rumah sakit tersebut seperti kunjungan dokter, pelayanan perawat, dan perbaikan sarana prasarana ruangan untuk kenyamanan pasien.

Hal itu disampaikan langsung Kepala Perwakilan Ombudsman Sumatera Utara, Abyadi Siregar, kepada dr Mardianto selaku Direktur Medik dan Keperawatan RS Adam Malik di ruang kerjanya, Rabu (30/12).

Abyadi menyampaikan sebelumnya Ombudsman mendapatkan laporan dari keluarga pasien bernama Satria Adi Putra, anak kandung Nurhawana Pane (73) pasien yang saat ini dirawat di rumah sakit pemerintah tersebut.

Pelapor mengeluhkan buruknya pelayanan kepada ibunya yang sudah 12 hari menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Ia mengakui tidak ada masalah saat pasien menjalani perawatan di IGD.

Pasien stroke tersebut masuk ruang IGD rumah sakit pada 18 Desember malam dan dilayani dengan cepat. Kemudian selama dua hari pasien dititip di ruang HCU karena ruangan stroke yang berkapasitas lima orang sedang penuh. Selanjutnya pada tanggal 20 Desember pasien dipindahkan ke ruang Stroke Corner, di sinilah masalah muncul.

Advertisement

Fasilitas ruangan tidak berfungsi dengan baik, seperti AC yang berjumlah dua unit, satu di antaranya tidak dapat digunakan karena rusak, sedangkan AC lainnya tidak berfungsi maksimal sehingga pasien menjadi kepanasan. Tak hanya itu, perawat juga dinilai tidak ramah kepada pasien saat berbicara.

Ironisnya, dokter jarang sekali berkunjung melihat kondisi pasien. Padalah di setiap dinding ruangan ada dipasang sticker yang menjelaskan bahwa dokter harus menjenguk pasien setiap hari sebelum jam 11.00 WIB.

“Saya selama 10 hari ibu saya dirawat di ruang Stroke Corner, baru sekali dokter datang pukul 14.00 WIB. Padahal sudah jelas dipampangkan di dinding-dinding itu kalau dokter harus datang setiap hari sebelum jam 11,” kata pelapor.

Selain itu, pelapor juga mengeluhkan sarana prasarana rumah sakit yang sangat kurang, seperti toilet umum dan ruang tunggu misalnya. Sangat sulit menemukan toilet yang dekat untuk kelurga pasien, dan rang tunggu Stroke Corner juga tidak ada sehingga keluarga pasien tidak tahu jika dokter datang berkunjung.

Keluarga pasien merasa kecewa karena tidak dapat bertanya langsung kondisi ibunya. Selain itu, keluarga pasien juga tidak dibenarkan melihat rekam medik pasien.

“Padahal kan kita ingin mengetahui bagaimana kondisi pasien, apa saja perkembangannya, lalu bagaimana tindakannya kalau tidak ada perubahan,” katanya.