Keberadaan 3 Jenazah Pekerja Podomoro Misterius, DPRD-Sumut Disepelekan

Proyek bangunan podomoro yang memakan korban jiwa (WOL Photo/Gacok)
Iklan

MEDAN, WOL – Keberadaan tiga jenazah pekerja bangunan Podomoro City Deli yang tewas tertimpa reruntuhan bangunan teras lantai sembilan jatuh hingga lantai tiga, di Jalan Putri Hijau/Guru Patimpus Medan hingga kini masih misterius.

Kapolresta Medan Komisaris Besar (Kombes) Pol Mardiaz Kusin mengaku, hingga kini pihaknya belum mengetahui identitas dan keberadaan ketiga korban. Sebab, rekan kerja yang berada di lokasi kejadian tidak ada yang mau dimintai keterangan.

“Sampai sekarang, saya belum tau identitas korban. Begitu juga keberadaan jenazahnya saya tidak tau dimana keberadaanya,”kata Mardiaz, Senin (7/11).

Meski begitu, sambung dia, dari kabar angin yang didengarnya (Kapolres) jenazah korban sudah dipulangkan ke kampung halamannya di Pulau Jawa. Namun, saat ditanya alamat korban untuk ditelusuri awak media, mantan Wadir Krimsus Polda Sumut ini enggan memberitahukannya. Bahkan, dia berpura-pura tidak tau dan tidak bisa masuk ke dalam lokasi pembangunan apartemen mewah tersebut.

“Tidak tau juga saya, soalnya kabar-kabar angin saja yang kudengar. Dan saya juga masih mencari tahu ini,” ungkapnya.

iklan

Bahkan, untuk memeriksa saksi-saksi saja penyidik Polresta Medan mengalami kesulitan. Sebab, tidak ada diantara para pekerja yang bersedia memberikan keterangan kepada petugas, meskipun polisi bisa saja memanggil paksa para pekerja tersebut bahkan menghentikan aktifitas kerja pada bagian tertentu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) dan memasang garis polisi sebelum proses penyelidikan selesai dilaksanakan.

“Untuk pemeriksaan saksi saja belum ada kami lakukan, soalnya tidak ada yang bersedia untuk dimintai keterangannya saat kejadian itu,” terangnya.

Terpisah, anggota Komisi A DPRD-Sumut, Sutrisno Pangaribuan, mengatakan pihaknya akan melakukan sidak ke lokasi kejadian untuk melihat secara langsung apa sebenarnya yang terjadi sehingga ada persekongkolan agar kasus itu tidak terungkap.

“Mereka (Podomoro) sebenarnya sudah mengangkangi, menyepelekan dan tidak menghargai DPRD-Sumut, sebab sudah dua kali dipanggil tidak mau hadir,” katanya.

Padahal, sambung dia, kejadian yang memakan korban jiwa sudah dua kali terjadi di kawasan itu. Tetapi aparatur penegak hukum menilai kasus itu tidak masalah besar. “Selain adanya persekongkolan yang dilakukan aparat kepolisian dalam hal ini Polda Sumut dan Polresta Medan, juga dilakukan oleh dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB),” ujarnya.

Sebab, tambah dia, beberapa saat sebelum proses pembangunan itu, Dinas TRTB mengaku belum memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kepada pihak Podomoro. Tetapi, belakangan diketahui IMB gedung itu sudah dikeluarkan.

“Kadis TRTB sebelumnya pernah mengeluh kepada dewan soal pembangunan itu karena IMB nya belum ada. Tetapi, belakangan mereka justru mengeluarkan izin,” ungkapnya.

Dia menuding, ada upaya penyuapan dilakukan pihak pengelola gedung dengan dinas TRTB dan Polda Sumut. “Pada kasus yang pertama, Polda Sumut mengaku sudah ada perdamaian antara korban dengan keluarga sehingga proses penyelidikan dihentikan, nah pada kasus kedua ini bagaimana?,” pungkasnya.

Informasi dihimpun Waspada Online, peristiwa tiga tewas pekerja bidang pengecoran, ketika memijak bekas coran bagian teras pada lantai sembilan, rubuh hingga korban terjatuh di bangunan lantai tiga bangunan Agung Podomoro, Jumat (4/12) malam sekira pukul 23.10 WIB.

Korban memijak coran teras lantai sembilan, diduga belum kering. Spontan mereka terjatuh ke lantai tiga. Melihat kondisi sangat kritis dan rekannya mencoba memberikan pertolongan. Belum sempat mendapat pengobatan medis, akhirnya ketiga korban tewas dan terus dibawa ke rumah sakit.(wol/lvz/gacok/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan