Identitas 3 Jenazah Korban Podomoro Terkuak, Polisi ‘Disuap’?

(WOL Photo/gacok).
Iklan

MEDAN, WOL – Teka-teki identitas tiga jenazah pekerja bangunan Podomoro City Deli yang tewas tertimpa reruntuhan bangunan di Jalan Guru Patimpus Medan, mulai terkuak.

Sayangnya, Polresta Medan enggan membeberkan secara rinci identitas ketiga pekerja itu. Kapolresta Medan, Kombes Pol Mardiaz Kusin, mengakui identitas tiga jenazah  korban telah diketahui.

“Identitas korban sudah diketahui, tetapi untuk lengkapnya silahkan tanya sama Kasat Reskrim, Kompol Aldi Subartono ya,” kata Kapolresta Medan kepada Waspada Online, Senin (7/12).

Namun, sambungnya, dalam kejadian itu, pihaknya sudah memeriksa dua orang saksi yakni inisial SW dan RC. Tetapi dari hasil pemeriksaan pihaknya belum bisa menetapkan tersangka. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kedua saksi itu bisa jadi tersangka.

“Saksinya masih dua orang dan belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Tetapi, bukan berarti kedua orang ini tidak bisa jadi tersangka,” tegas mantan Kapolres Kabupaten Madina ini.

iklan

Kasat Reskrim Polresta Medan, Komisaris Polisi Aldi Subartono, mengaku ketiga korban tewas tertimpa reruntuhan bangunan itu, yakni inisial W (30) warga Demak, MR (28) warga Demak dan R (38) warga Pekalongan. Namun ketika ditanya identitas korban sangat dirahasiakan, mantan Kapolsek Sunggal ini mengaku masih ada yang perlu diperiksa.

“Pokoknya masih ada yang perlu diperiksa, tetapi alamat korban itu memang saya tidak tahu pasti di mana. Karena yang saya dapat hanya seperti itu,” kata Aldi.

Menurut dia, menutup rapat-rapat informasi tentang alamat korban itu karena kasusnya masih dalam penyelidikan. Sebab, jika alamat dan identitasnya diketahui publik atau wartawan maka akan menelusurinya hingga ke alamat korban.

“Jangan dululah, kan masih pemeriksaan,” katanya singkat.

Begitu juga dengan keberadaan korban saat tertimpa reruntuhan, Kompol Aldi enggan memberitahukan ketiga korban itu sempat dirawat di Rumah Sakit (RS) untuk mendapatkan perawatan medis atau tidak. Sehingga kuat dugaan ketiga korban yang tewas itu tidak diperlakukan secara manusiawi.

“Sebentar ya, saya sudah dipanggil Kapolres,” kata Aldi menghindari pertanyaan wartawan.

Menanggapi hal itu, anggota Komisi A DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan, menilai sikap Kasat Reskrim Polresta Medan itu menunjukkan adanya permainan dalam penanganan kasus itu agar tidak diketahui publik karena ada kepentingan tertentu.

“Sudah dua kali kejadian di lokasi itu, dua kali pula polisi selalu menutupi informasinya. Pasti ada suap di belakang itu,” katanya.

Sebab, masih kata dia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Keterbukaan Informasi Publik, polisi seharusnya menginformasikan apa yang terjadi dalam peristiwa itu sehingga tidak menimbulkan preseden buruk.

“Kalau seperti ini kan kesannya ada indikasi tertentu, malah polisi bertindak seperti humasnya Podomoro? Polisi itu polisinya negara karena digaji oleh negara, bukan polisinya Podomoro,” tegas anggota DPRD ini.

Dia menjelaskan, pihaknya akan segera memanggil Kapolda Sumut untuk didengar pendapatnya mengenai proses penyelidikan kasus itu. Sehingga masyarakat luas mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.

“Iya, kami akan menyurati Kapolda Sumut dan mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi kok bisa-bisanya seperti itu. Bisa dibilang, penegakan hukum itu hanya berlaku bagi rakyat kecil, tetapi bagi pengusaha besar hukum itu sepertinya tidak berlaku,” pungkasnya.

Ketua Komisi D DPRD Medan, Sabar Syamsurya Sitepu, mengaku akan meninjau lokasi insiden tewasnya tiga  pekerja di mega proyek Podomoro itu. Dikatakan, seharusnya peristiwa itu tidak akak terjadi bila seluruh pengerjaan bangunan disesuaikan dengan standar ketentuan konstruksi bangunan.

Anggota Komisi D dari Fraksi PDI Perjuangan, Daniel Pinem, menyebutkan soal kelayakan proyek tersebut, pihak DPRD dan Pemko Medan telah menyepakati perubahan peruntukan lahan tempat proyek dibangun. Meski demikian, ketinggian dan konstruksi bangunan proyek tetap harus sesuai ketentuan.

Namun secara tegas, ia menyayangkan insiden kecelakaan di proyek Podomoro yang terjadi untuk ketiga kalinya. Setiap jengkal langkah pembangunan yang dilakukan seharusnya benar-benar diawasi dengan sungguh-sungguh.

“Jangan asal jadi, akhirnya terjadi insiden kecelakaan kerja. Ini kan belum lagi apa-apa. Bagaimana pula nanti kalau itu sudah beroperasi? Tentunya akan memakan korban yang lebih banyak bila terjadi insiden rubuhnya gedung. Ini harus diantisiapsi oleh semua pihak, terutama oleh Podomoro sendiri. Kita berharap agar  pengawasan dari Dinas TRTB harus maksimal, jangan hanya berani kepada bangunan kecil-kecil saja,” sindir Daniel.

Ditambahkan, dalam pengerjaan  pembangunan proyek seperti Podomoro, alat-alat berat seperti crane, tidak boleh sampai mengancam keselamatan masyarakat, terutama pengguna jalan.

Terpisah, Pj Wali Kota Medan, Randiman Tarigan, beranggapan bahwa peristiwa diduga tewasnya pekerja kontruksi pembangunan Agung Podomoro adalah sebuah kelalaian baik pekerja maupun penanggungjawab proyek. Untuk itu, pihaknya melalui Dinas TRTB akan meninjau lokasi proyek, guna mencari tahu standar bangunan yang dikerjakan.

Informasi dihimpun Waspada Online, peristiwa tiga tewas pekerja bidang pengecoran, ketika memijak bekas coran bagian teras pada lantai sembilan, rubuh hingga korban terjatuh di bangunan lantai tiga bangunan Agung Podomoro, Jumat (4/12) malam sekira pukul 23.10 WIB.

Korban memijak coran teras lantai sembilan, diduga belum kering. Spontan mereka terjatuh ke lantai tiga. Melihat kondisi sangat kritis dan rekannya mencoba memberikan pertolongan. Belum sempat mendapat pengobatan medis, akhirnya ketiga korban tewas dan terus dibawa ke rumah sakit.(wol/lvz/gacok/mrz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan