Waduk Raksasa yang Dibuka Presiden Jokowi Masih Dalam Pengerjaan

WOL Photo/Chai
Iklan

LHOKSUKON, WOL – Pembangunan waduk raksasa yang bersumber dana APBN senilai Rp1,7 triliun di Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, hingga hari ini masih dalam pengerjaan pihak kontraktor. Namun sejauh ini belum diketahui berapa persen proses pengerjaan waduk yang sempat dibuka oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo atau Jokowi.

Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Thaib saat ditanyai Waspada Online, Selasa (10/11), juga belum mengetahui secara pasti berapa persen rampung pengerjaan waduk tersebut. Akan tetapi pihaknya akan memanggil pihak kontraktor untuk memaparkan kendala apa saja dan sejauh mana pengerjaan dilakukan.

“Sampai dengan hari ini kami belum tau percis apa kendala proses pengerjaan waduk, dan sejauh mana proses pengerjaannya. Yang kita tau waduk tersebut dikerjakan tiga kontraktor, dan sudah kita surati untuk segera memaparkan segala hal di depan Muspida nanti,” jelas Bupati yang akrab disapa Cek Mad itu.

Pihaknya meminta pihak kontraktor nantinya dapat memaparkan apa saja kendala dan sejauh mana proses pengerjaannya, dihadapan Muspida.

“Kontraktornya masih di Jakarta, dan sudah kami surati untuk memaparkan apa saja kendala dan sejauh mana pengerjaannya,” sebutnya.

iklan

Dirinya juga mengaku bahwa sejak dibukanya waduk oleh Presiden Jokowi sejauh ini belum terima laporan bahwa terdapat kendala di lapangan maupun proses pengerjaan. Untuk kendala-kendala kecil katanya masih dapat ditanggulangi oleh danramil, kapolsek dan camat setempat.

Sebagaimana diketahui, pada Senin tanggal 09 Maret 2015, Presiden RI Jokowi resmi membuka pembangunan waduk raksasa terbesar nomor dua di Sumatera, dengan anggaran dari APBN senilai Rp1,7 triliun dan proses pengerjaan sampai tahun 2017 mendatang.

Waduk tersebut diperkirakan mampu menampung jutaan meter kubik air saat musim hujan. Oleh karena itu sembilan kecamatan yang rawan banjir di antaranya Paya Bakong, Pirak Timur, Matangkuli, Tanah Luas dan Lhoksukon, bisa teratasi.

Kemudia kebutuhan air irigasi untuk 45 ribu hektare (ha) lahan sawah di kawasan setempat bisa terpenuhi. Dengan demikian kebiasaan kekeringan lahan sawah saat musim tanam dapat teratasi sehingga tidak berakibat puso atau gagal panen.(wol/chai/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan