“Sudah Saatnya Indonesia Gunakan Tenaga Nuklir”

Baharoeddin Jusuf Habibie. (Ist)
Iklan

JAKARTA, WOL – Hingga saat ini penggunaan tenaga nuklir untuk kebutuhan sehari-hari masih menjadi polemik di Indonesia, sampai banyak yang menolak karena khawatir radiasi. Padahal negara lain sudah banyak yang memanfatkan tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan warganya.

Disampaikan mantan Presiden ke-3, BJ Habibie, rata-rata di negara Eropa sudah menerapkan tenaga nuklir untuk dijadikan pembangkit listrik. Hal itu juga dilakukan oleh Amerika Serikat yang dikenal lantang menolak penggunaan nuklir di negara lain.

Disebutkan, sekitar 76 persen tenaga nuklir dialirkan untuk listrik di Prancis. Kemudian Belgia sebanyak 56 persen, Hungaria 43 persen, Republik Ceko 34 persen, Finlandia dan Jerman 23 persen, Inggris 19 persen, Spanyol 18 persen, dan Korea Selatan 32 persen.

“Bahkan, Amerika Serikat dan Jepang masing-masing 23 persen dan 27 persen konsumsi listrik dari nuklir. Di Amerika ada 104 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), lalu di Jepang ada 54 (PLTN),” jelas Habibie di Hotel Aryaduta, Tugu Tani, Jakarta, Senin (12/10).

Mantan Menteri Riset dan Teknologi itu melanjutkan, titik solusi dalam kekhawatiran masyarakat Indonesia sebenarnya harus berkurang. Sebab sudah ada lembaga yang mengawasi penggunaan nuklir melalui Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) di Indonesia.

iklan

“Bagaiman kalau kita silahkan masuk (penggunaan nuklir). Kita tentukan keamanannya untuk membuktikannya. Saya kira Bapeten (didirikan) untuk membuat solusi nuklir. Kita terlalu takut karena peristiwa Chernobyl dan Jepang (Fukushima),” ujar Habibie.

Habibie menyarankan agar pemerintah membuka keran investor dalam membangun PLTN di Indonesia. Ia menyakini banyak negara yang akan mendukung langkah Indonesia itu.

“Saya sarankan buka pintu untuk tingkatkan kualitas Bapeten itu. Saya yakin Prancis, Jepang, Amerika akan ramai-ramai meningkatkan kualitas Bapeten dengan masukin duit,” jelasnya.

Sementara mengenai risiko pemanfaatan tenaga nuklir untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat, Habibie mengungkapkan bahwa itu sudah diperhitungkan sejak dulu sebelum rencana tersebut digulirkan.

“Risiko itu sudah dikalkulasi. Satu jangan lupa, siapapun membuatnya tidak akan seenaknya sehingga terjadi bencana. Kalau terjadi, sama saja harakiri (bunuh diri),” kata dia.(viva/data1)

Iklan