Kabut Asap, 6.798 Sekolah di Malaysia Masih Diliburkan

foto: AP

JAKARTA, WOL – Sebanyak 6.798 sekolah di Malaysia diliburkan sejak awal pekan ini lantaran pekatnya kabut asap yang berasal dari kebakaran lahan dan hutan di Indonesia tak kunjung mereda. Penutupan sekolah itu menyebabkan sekira empat juta siswa tidak dapat belajar seperti biasanya.

Terkait masalah tersebut, Menteri Pendidikan Malaysia Mahdzir Khalid mengatakan semua sekolah diliburkan kecuali di wilayah Kelantan. Keputusan pemerintah guna mengantisipasi dampak yang lebih buruk seperti masalah kesehatan. “Masalah ini harus ditangani dengan cepat dan serius supaya tidak menimpa anak-anak,” ujarnya, Rabu (7/10).

Mengenai langkah selanjutnya, kata dia, pemerintah akan terus mengawasi kualitas udara di wilayah Kelantan, Labuan, Sabah, dan Sarawak sebelum memutuskan meliburkan sekolah. “Jika di empat wilayah tersebut kualitas udara kian memburuk, maka akan akan mengambil langkah serupa,” kata dia kepada wartawan di SMK Seri Ampang,

Kabut asap yang menyelimuti Malaysia saat ini memaksa 6.798 sekolah diliburkan. Termasuk 3,7 juta siswa dan lebih dari 300 ribu guru tidak bisa beraktivitas seperti biasanya.

Sebelumnya, politisi negeri jiran Malaysia meminta pemerintah pusat Malaysia untuk meminta kompensasi kepada Pemerintah Indonesia akibat kabut asap berkepanjangan.

Advertisement

Datin Paduka Chew Mei Fun, Deputi Menteri Urusan Wanita, Keluarga, dan Pelayanan Masyarakat, seperti dilansir Bernama, Senin (5/10) lalu menyatakan, Malaysia telah menderita akibat kabut asap ini setiap tahun.

“Ini benar-benar konyol mengingat mereka (Indonesia) tidak pernah menyelesaikan masalah ini. Saya rasa kita harus meminta Indonesia memberi kompensasi. Anak-anak tidak dapat bersekolah,” kata Chew melampiaskan kekesalannya.

“Juga pada saat bersamaan, tidak akan ada yang datang berwisata ke Malaysia. Bisnis makanan terbuka anjlok 30 persen. Saya rasa biaya kesehatan warga juga meroket akibat asap ini,” kata mantan senator ini.

Chew kemudian meminta orangtua untuk membatasi kegiatan anak-anaknya di luar rumah sepanjang kabut belum beranjak. Malaysia memerintahkan penutupan sekolah selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa (6/10), di hampir semua wilayah karena tebalnya asap di negara tersebut.

Semua kegiatan belajar mengajar diliburkan, kecuali di negara bagian Kelantan, Sabah, dan Serawak, seperti disampaikan pihak Pemerintah Malaysia. Perdana Menteri Malaysia Najib Razak sendiri telah mendesak Indonesia menindak pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan pertanian di wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Terkait hal ini, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo menginginkan kebakaran hutan dan lahan dipadamkan lebih cepat. Pernyataan ini sekaligus membantah penilaian bahwa pemerintah tidak maksimal menangani kebakaran tersebut.

“(Harapannya) dalam bulan Oktober ini selesai,” kata Pramono, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Pramono mengungkapkan, harapan itu muncul seiring dengan usaha tim gabungan memadamkan api dan prediksi tibanya musim hujan. Presiden, kata Pramono, juga meminta pembangunan infrastruktur seperti embung dan sekat kanal di sekitar lokasi kebakaran tetap dilanjutkan meski musim hujan telah tiba.

“Terutama di lahan gambut supaya untuk selalu buat gambut jadi basah itu terus dilakukan,” ujarnya.

Pramono melanjutkan, Presiden selalu menerima laporan secara berkala dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, TNI serta Polri terkait kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan laporan yang masuk, Pramono menyatakan bahwa titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan sudah terus berkurang. Ia mengklaim penurunan jumlah titik api itu merupakan bukti berhasilnya upaya pemadaman yang dilakukan tim gabungan.

“Presiden menginginkan proses penyelesaian asap bisa lebih cepat dan kalau bisa dalam bulan-bulan ini sudah terselesaikan,” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai sikap pemerintah terkait tawaran bantuan dari Singapura, Pramono tidak menjawab tegas. Ia mengatakan pemerintah Indonesia akan terus memantau perkembangan di lapangan. “Kita lihat perkembangan yang ada. Tapi yang jelas titik api sudah turun,” ucap Pramono.(okz/kompas/data2)