Harga Jual Biji Kakao Naik di Aceh Utara

foto: kemenperin.go.id
Iklan

LHOKSUKON, WOL – Harga komoditas biji kakao di beberapa tempat Kabupaten Aceh Utara mulai bergerak naik sejak beberapa hari belakangan ini. Biji kakao kering yang sudah mencapai hasil 100 persen Rp 30 ribu/kilogram.

“Kalau kualitasnya 100 persen bagus ya otomatis harganya juga mahal, rata-rata 30 ribu ke atas perkilogramnya. Ada juga yang menjual masih basah bijinya, harganya dibawah Rp10 ribu,” ujar Rahmadi (41), agen pengepul keliling (muge, red) di Lhoksukon, Sabtu (3/10).

Kondisi yang sama juga berlaku di Kecamatan Paya Bakong. Sebagian warga yang notabenenya petani kakao di kawasan itu bahkan sangat puas dengan harga tersebut.

“Untuk sementara ini kita bisa puas merasakan tingginya harga jual kakao dari petani. Rata-rata di sini memiliki satu atau dua hektar lebih areal perkebunan kakao, maka sangat puas dengan harga ini,” kata Bukhari (30), salah satu warga di Payabakong.

Sejumlah agen pengepul mengatakan, selain harga yang tinggi untuk kakao kering berkualitas, pengepul juga menerima kakao basah dari petani. Petani tidak lagi repot-repot untuk mengeringkan biji kakao sampai berhari-hari.

iklan

“Siap dipanen, buahnya dibelah, kemudian biji kakaonya yang masih basah bisa langsung dijual. Rata-rata kami ambil dengan harga Rp6 ribu perkilogram. Biji-biji kakao banyak kita peroleh dari daerah translok pertanian di Cot Girek, Pirak Timu maupun PayaBakong,” ujar Tarmizi, agen pengepul di Paya Bakong.

Menurut dia, selain harganya yang tinggi, pasokan biji kakao yang didapat juga tergolong banyak dan mudah dicari. Hal itu dikarenakan sejak pertengahan bulan September lalu mulai memasuki musiman buah kakao.

“Kalau sudah memasuki musim hujan, sudah mulai bisa dipanen. Memang sudah begitu, jadi kita ga susah-susah lagi cari pasokan, bahkan ramai juga pemasok yang datang menjual ke kita,” tambahnya.

Pantauan Waspada Online, sejak tingginya harga jual biji kakao, warga menjadikan areal sepanjang pinggiran jalan Lhoksukon-Cot Girek sebagai lokasi penjemuran biji tersebut.

Hal serupa juga terpantau di Kecamatan PayaBakong, dan  Pirak Timu.

“Sangking banyaknya, jadi ga ada tempat lokasi penjemuran. Pinggiran jalan inilah kita jadikan tempat penjemuran biji-biji kakao, mumpung matahari masih terbit,” sebut Nurhalimah (32).

Warga petani berharap, harga tersebut terus bergulir hingga kedepan. Biji kakao ini adalah salah satu penambah ekonomi warga selain pertanian tanaman padi.(wol/chai/data2)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan