Inilah Kutipan Pembicaraan Evy dan Staf Gatot

tribunnews.com
Iklan

JAKARTA, WOL – Gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan yang diajukan oleh advokat Otto Cornelis Kaligis bertujuan untuk membatalkan status tersangka terhadap Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho.

“Waktu itu, sebagai tersangka Pak Gatot dalam proses pemanggilan yang menurut Pak Kaligis keliru, Pak Gatot tersangka tapi menurut Pak Kaligis belum pernah diperiksa,” kata istri Gatot, Evy Susanti, saat menjadi saksi di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (17/9).

Evy menjadi saksi untuk panitera yang juga Sekretaris Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan Syamsir Yusfan yang didakwa menerima uang 2.000 dolar AS.

Gugatan ke PTUN diajukan oleh Kaligis menyangkut surat perintah penyelidikan tentang dugaan terjadinya Tindak Pidana Korupsi Dana Bantuan Sosial (Bansos), Bantuan Daerah Bawahan (BDB), Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan tunggakan Dana Bagi Hasil (DBH).

Selain itu, juga terkait Penyertaan Modal pada sejumlah BUMD Sumatera Utara dan surat panggilan kepada Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut Ahmad Fuad Lubis dan Plh Sekretaris Daerah Sumut Sabrina mengenai kasus tersebut.

iklan

Lebih lanjut, jaksa penuntut umum KPK juga mengungkapkan percakapan antara Evy Susnati dan staf Gatot bernama Mustofa pada 1 Juli untuk mengurus kelancaran OC Kaligis saat mengajukan gugatan ke PTUN .

Berikut kutipan pembicaraan istri muda Gubsu non aktif Evy:

Mustofa (M): Assalamualaikum

Evy (E): Wallaikumsalam, Pak Mus, Pak Kaligis mau ke Medan?

M: Heeh

E: Eee, malem sembilan belas empat lima, Bapak telpon, mas bawa itu, ee bapak telpon pak, bang Gary ya pak!

M: heeh

E: Tiket sembilan belas empat lima, ini saya lagi mau kasihkan uang dulu ke Pak Kaligis, ehem, ee tiket sama Marriot katanya pak

M: Emm, iya berapa?

E: Besok saya mesti, ee mintanya tadi dua kamar, besok saya mesti ke PTUN Pak, karena putusan hari Selasa ya?

M: Heeh

E: Jadi setelah sidang mundur Bapak kan kemarin terkait yang kemarin dateng itu. Bapak mau jamin amankan supaya itu mau dibawa ke gedung bundar, jadi kalau itu udah menang gak akan ada masalah katanya di gedung bundarnya pak gitu

M: heeh, heeh

E: Eee, bapak sama Mas Gatot kali ketemu nanti malem sama Pak Kaligis?

M: heeh gitu

E: Udah, udah saya telfonan sama mas juga

M: Heem, Pak kaligis mau ketemu langsung, langsung ketemu mas gatot, heeh

E: iya heeh, mas gatot yang pengen ketemu

M: heeh, heeh

E: Gitu ya pak ya, saya tinggal yang Gery aja nanti yang dikasihkan bapak yang semua udah saya beresin pak kaligis udah saya beresin di sini ya

M: heeh

E: termasuk tiga ribu US dolarnya sudah saya kirim ini pak

M: oh gitu

E: nanti invoicenya saya suruh kasih ke bapak ya

M: iya

E: makasih ya pak

M: iya bu

E: bapak tinggal bayar sepuluh juta saja

M: heeh

E: yang lain dari saya, makasih ya.

Terdakwa dalam perkara ini adalah Sekretaris Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Syamsir Yusfan, didakwa menerima uang 2.000 dolar AS.

Hasil dari pemberian uang tersebut adalah majelis hakim yang terdiri atas Tripeni Irianto Putro. Dermawan Ginting, dan Amir Fauzi mengabulkan sebagian gugatan. Gugatan yang dikabulkan adalah pembatalan surat panggilan kepada Ahmad Fuad Lubis dan Sabrina sedangkan gugatan yang tidak dikabulkan adalah penetapan surat perintah penyelidikan (sprinlidik) Kejati Sumut.

Dalam perkara ini, Syamsir didakwa berdasarkan pasal 12 huruf c atau pasal 11 UU No 31 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP tentang hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk memengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili dengan ancaman pidana paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun, ditambah pidana denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.  (inilah/data1)

Iklan