Anak Buah Kaligis Diduga Sempat Hilangkan Barang Bukti

Istimewa

JAKARTA, WOL – Pegawai di Kantor OC. Kaligis and Associates dikabarkan berusaha memindahkan dan menghilangkan dokumen yang berkaitan dengan penanganan perkara di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.

Namun, Afrian Bondjol, salah satu pengacara yang berkantor di OCK and Associates menepis. Afrian yang menjadi saksi buat M. Yagari Bhastara Guntur alis Geri membantah ada pegawai yang diperintah terkait dengan pemindahan dokumen itu.

“Bukan itu, jadi terkait dengan selama saya kerja di kantor kaligis. Ditanyain suasana kantor, sistem kerja di Kaligis itu gimana. Mengenai hubumgan kaligis dengan asistennya,” kata Afrian di Gedung KPK, Rabu (5/8) malam.

Meski demikian, dia menolak merinci materi pemeriksaan terkait kasus yang menjerat bosnya. Dia memilih materi pemeriksaan itu dibuka di hadapan persidangan.

“Kalo mengenai kasusnya sendiri, tidak bisa saya jelaskan disini materi pemeriksaan, cuma tadi ditanya selama kerja di kantor, gimana hubungan kaligis dengan associatesnya, sistem laporan di kantor, gitu lah,” ujar dia.

Advertisement

Afrian diperiksa oleh penyidik selama 10 jam lebih, dia keluar dari Gedung KPK pada pukul 20.30 WIB. Dikonfirmasi mengenai lamanya pemeriksaan, dia mengaku watu pemeriksaan terpotong waktu istirahat, sehingga waktu pemeriksaan cukup lama.

“Kan tadi makan siang, Ashar, Magrib, Isa. Itu (waktunya) udah kepotong empat kali,” kata dia.

Dalam kesempatan ini, dia juga membantah bahwa pihaknya melakukan pelarangan pada tim satgas KPK yang ingin menggeledah kantor Kaligis. “Kemarin gak bisa masuk gara-gara, kantor sudah mau libur lebaran terus di kunci, roling door di kunci, yang pegang kuncinya itu yang buat lama,” papar Afrian.

Sementara itu, Plt Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiequrrahman Ruki membenarkan bahwa OC Kaligis memerintahkan anak buahnya memindahkan beberapa dokumen dari kantor yang berkaitan dengan penanganan perkara di PTUN Medan.

“Kemungkinan itu terjadi. Setiap orang pasti berusaha menutupi kesalahan yang dibuatnya. Buat kami biasa aja, nothing to worry lah,” kata Ruki di Jakarta, Rabu (15/7) malam.

Meski membernarkan tindakan itu, dia belum bisa memastikan apakah penyidik KPK akan menjerat Kaligis dengan pasal menghalang-halangi penyidikan. “Kami lihat nanti, jangan berandai-andai,” ujarnya.

Sebab menurut dia, tindakan itu tidak membuat Kaligis bisa lolos dari jeratan KPK. “Kami merasa punya cukup alat bukti tinggal kita lengkapi. Oleh karena itu, kami sudah berani melakukan langkah penahanan, penangkapan, karena sudah merasa cukup alat bukti,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bukti-bukti itu didapatkan penyidik dari penggeledahan beberapa tempat yang salah satunya adalah dari kantor Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho serta di Pengadilan TUN Medan.

Diketahui, KPK telah resmi menetapkan OC Kaligis sebagai tersangka kasus dugaan kasus pemberian dan penerimaan hadiah kepada hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan.

Penetapan Kaligis sebagai tersangka adalah pengembangan dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK beberpa waktu lalu. Dimana dalam OTT itu KPK berhasil mengamankan lima orang yang kemudian dijadikan tersangka

Lima orang itu adalah Ketua PTUN Medan, Tripeni Irianto Putro; dua orang koleganya hakim Amir Fauzi dan hakim Dermawan Ginting; Panitera Sekretaris PTUN Medan, Syamsir Yusfan; serta seorang advokat yang bekerja di kantor Kaligis & associates, M. Yagari Bhastara alias Geri.

Atas perbuatannya Kaligis disangka dengan pasal 6 ayat (1) huruf a dan pasal 5 ayat (1) huruf a atau b, pasal 13 UU 20 Tahun 2001 juncto pasal 64 ayat (1) juncto pasal 55 ayat (1) KUHPidana.(inilah/data1)